Thursday, August 7, 2025

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest : Book Review

 

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest : Book Review

 Penaklukan Dimulai

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest karya Felix Y. Siauw dan Sayf Muhammad Isa sebagai ilustrator, merupakan buku ke empat dari serial The Chronicles Of Ghazi. Bercerita  tentang perjalanan Muhammad Al Fatih atau Mehmed memulai usahanya untuk mewujudkan mimpi sebagai ahlu bisyarah dengan menaklukan kota Konstantinopel. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw, ratusan tahun silam.

Kisah dimulai ketika Mehmed bersama teman-temannya yaitu Jaganos, Raju, Saruja  dan Syaikh Muhammad Qurani pergi ke Kota Damaskus untuk mencari pembuat pedang terhebat di dunia yang digunakan oleh Sultan Salahuddin Al -Ayubi ketika membebaskan Al-Quds. Pedang itu terkenal ketajamannya karena mampu membelah baju zirah lawan.

Saking kerennya pedang Damaskus ini, tidak sembarang pengrajin lho dapat membuatnya. Hanya anak keturunan Sultan Salahuddin Al Ayubi yang dikenal dengan Bani Sayf, yang dapat memproduksi Pedang Damaskus ini.

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest : Book Review


Karena keistimewaan tersebut, Bani Sayf senantiasa diburu oleh kelompok penjahat Hasasin yang dipimpin oleh Hasan Sabah. Mereka membantai satu persatu anggota keluarga Bani Sayf agar umat Islam tidak dapat lagi menggunakan pedang damaskus dalam jihadnya.

Oleh karena itu untuk menjaga keamanan, Bani Sayf selama bertahun-tahun menyingkir dari keramaian dan menyamarkan identitas diri. Juga berpindah-pindah tempat, jadi hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaannya. (Jadi tidak heran sih, kalau ada anggota Bani Sayf yang menganggap pedang damaskus itu sebagai kutukan bagi mereka).

Itulah yang membuat  Mehmed menemui berbagai kendala  ketika mencari orang yang dapat membuat pedang Damaskus. Sedihnya lagi dalam usaha pencarian itu, Sehzade Turki Ustmani ini harus menyaksikan guru kesayangannya syahid di tangan penjahat yang bernama Baba Najat. Fyi teman-teman, dia ini juga yang telah merenggut nyawa kedua kakaknya Mehmed (Duh kebayang pasti Mehmed merasa bersalah banget).

Sebenarnya tujuan utama orang jahat itu bukan untuk menghilangkan nyawa Syaikh Qurani, saat terjadi penyerangan di tengah guru sepi Damaskus itu. Mehmed-lah yang menjadi target utamanya, sang pewaris tunggal Kesultanan Turki Ustmani.

Cerita semakin seru dan konfliknya semakin rumit serta penuh ketegangan, ketika tiba-tiba Sultan Murad turun tahta karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena pada saat itu penguasa Ustmani ini melihat keadaan politik lebih tenang dan terkendali. Jadi menurutnya suksesi kekuasaan itu tidak akan membahayakan Mehmed maupun Kesultanan Turki Ustmani.

Amanlah pokoknya, semuanya ok. Tapi ternyata tidak semudah itu ferguso.

Tetep aja, walaupun dalam sistem pemerintahan monarki itu sudah jelas jika rajanya turun, secara otomatis anaknya yang menggantikan. Tapi karena Mehmed ini masih remaja dan ayahnya juga masih hidup, pejabat senior tidak dapat menerimanya begitu saja.

Pengangkatan Mehmed sebagai sultan muda mendapat penolakan dimana-mana. Termasuk wazir agung dan kepala intelejen kesultanan Turki Usmaniyah yang nota bene merupakan orang-orang kepercayaan Sultan Murad.

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest : Book Review


Ujian yang dihadapi Sultan Mehmed tidak berhenti sampai disitu, ia juga harus menghadapi pemberontakan yang terjadi di Karaman  dan protes dari Askeri Janisari (angkatan militer Turki Ustmani) yang meminta kenaikan gaji dua kali lipat. Mereka juga mengancam boikot, tidak akan maju ke medan tempur jika tidak dipimpin langsung oleh Sultan Murad.

Konflik politik yang melanda pemerintahan dalam negeri Turki Ustmani,  dipandang oleh pihak musuh sebagai titik lemah untuk mengalahkan kesultanan Turki Ustmaniyah. Negara-negara yang berada di wilayah Kristendom-pun segera bergerak melakukan konsolidasi, menyatukan kekutan yang selama ini tercerai berai untuk mengobarkan perang suci dibawah komando Paus.

Tidak ketinggal juga Ratu Barbara Celje,  Permaisuri kerajaan Hungaria bertopeng ini melakukan berbagai upaya licik dan jahat melalui abdi-abdi setianya yang tergabung dalam pasukan hitam. Termasuk memanggil dua prajurit Kristendom Hitam dan Putih.

Dapatkah Sultan Muhammad Al-Fatih menyelamatkan negaranya?

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest : Book Review


Hingar Bingar Panggung Politik

Buku The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest ini walaupun penulis mengemas fakta sejarah dengan diksi yang ringan sehingga membacanya menjadi sangat seru dan menghibur. Tetapi buku ini tidak dapat dikategorikan sebagai novel yang  bisa diselesaikan sekali duduk.

Cerita yang tersaji dalam The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest ini jika ditelisik lebih dalam, sejatinya menyuguhkan bagaimana hingar bingar di dunia politik yang terjadi saat itu.

Penulis mengajak para pembaca untuk memahami bahwa sebuah fenomena politik yang terjadi, tidak cukup hanya dengan melihat panggung depannya saja. Kita juga harus memahami hal-hal yang tejadi di bagian belakang panggung politik yang pertarungannya kadang-kadang lebih keras dan penuh intrik dibandingkan dengan yang terlihat di panggung depan.

Dari buku yang diceritakan dengan menggunakan alur maju dari sudut pandang orang ketiga (POV 3) ini. Saya sangat terkesan dengan Sultan Muhammad Al- Fatih, ketika akan melakukan sesuatu selalu memohon petunjuk dari Allah Swt terlebih dahulu dan meminta nasihat kepada orang tua maupun gurunya.

Saya paling suka dengan nasihat bijak Syaikh Aaq Syamsudin, saat Mehmed begitu terpuruk dan merasa dipermalukan luar biasa di depan rakyatnya.

“Percayalah kepada pertolongan Allah walau semua orang meragukanmu, Mehmed. Yakinlah bahwa Dia pasti akan memberi jalan keluar. Dan terkadang jalan keluar itu datang ketika kita mundur satu langkah, dan di sanalah Allah akan menganugerahkan kekuatan kepada kita. Mundurlah sejenak, Mehmed, dan persiapkan kekutanmu. Allah takkan pernah meninggalkan mu”

Begitu menguatkan, tidak menyalahkan apalagi menghakimi.

Keren bangetkan? Buku ini recommended untuk dibaca segala usia dan segala cuaca. Gen Z atau remaja yang suka alergi baca buku sejarah karena bahasanya kaku sehingga cepat bosan dan ngantuk.

The Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest : Book Review


Buku ini solusinya (kok kayak iklan mesin cuci ya wkwkwk), soalnya seru pisan ada gambar ilustrasinya pula jadi mudah bayangin adegannya. Terus banyak muatan dakwahnya, misalnya nih saat dalam cerita ada tokoh lelaki yang dinarasikan memakai baju tidak menutup aurat. Pada catatan kakinya diterangkan kalau aurat laki-laki itu begini begini.

Buku ini juga tidak terlalu tebal,  dengan keseruan ceritanya plus penggambaran tokoh dan tempatnya yang cukup detail pasti tidak akan lama bacanya. Eh tapi saya mau nanya serius sama Ustadz Felix kenapa banyak banget menggunakan kata “selembar” ya? selembar tenaga, selembar cahaya dan selembar lain-lainnya.

 

No comments:

Post a Comment

Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.