Penaklukan Dimulai
The
Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest karya
Felix Y. Siauw dan Sayf Muhammad Isa sebagai ilustrator, merupakan buku ke
empat dari serial The Chronicles Of Ghazi. Bercerita tentang perjalanan Muhammad Al Fatih atau
Mehmed memulai usahanya untuk mewujudkan mimpi sebagai ahlu bisyarah dengan
menaklukan kota Konstantinopel. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw,
ratusan tahun silam.
Kisah dimulai ketika Mehmed
bersama teman-temannya yaitu Jaganos, Raju, Saruja dan Syaikh Muhammad Qurani pergi ke Kota
Damaskus untuk mencari pembuat pedang terhebat di dunia yang digunakan oleh
Sultan Salahuddin Al -Ayubi ketika membebaskan Al-Quds. Pedang itu terkenal
ketajamannya karena mampu membelah baju zirah lawan.
Saking kerennya pedang Damaskus
ini, tidak sembarang pengrajin lho dapat membuatnya. Hanya anak keturunan
Sultan Salahuddin Al Ayubi yang dikenal dengan Bani Sayf, yang dapat
memproduksi Pedang Damaskus ini.
Karena keistimewaan tersebut,
Bani Sayf senantiasa diburu oleh kelompok penjahat Hasasin yang dipimpin oleh
Hasan Sabah. Mereka membantai satu persatu anggota keluarga Bani Sayf agar umat
Islam tidak dapat lagi menggunakan pedang damaskus dalam jihadnya.
Oleh karena itu untuk menjaga
keamanan, Bani Sayf selama bertahun-tahun menyingkir dari keramaian dan
menyamarkan identitas diri. Juga berpindah-pindah tempat, jadi hanya
orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaannya. (Jadi tidak heran sih,
kalau ada anggota Bani Sayf yang menganggap pedang damaskus itu sebagai kutukan
bagi mereka).
Itulah yang membuat Mehmed menemui berbagai kendala ketika mencari orang yang dapat membuat pedang
Damaskus. Sedihnya lagi dalam usaha pencarian itu, Sehzade Turki Ustmani ini
harus menyaksikan guru kesayangannya syahid di tangan penjahat yang bernama Baba
Najat. Fyi teman-teman, dia ini juga yang telah merenggut nyawa kedua kakaknya
Mehmed (Duh kebayang pasti Mehmed merasa bersalah banget).
Sebenarnya tujuan utama orang
jahat itu bukan untuk menghilangkan nyawa Syaikh Qurani, saat terjadi penyerangan
di tengah guru sepi Damaskus itu. Mehmed-lah yang menjadi target utamanya, sang
pewaris tunggal Kesultanan Turki Ustmani.
Cerita semakin seru dan
konfliknya semakin rumit serta penuh ketegangan, ketika tiba-tiba Sultan Murad
turun tahta karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena pada
saat itu penguasa Ustmani ini melihat keadaan politik lebih tenang dan
terkendali. Jadi menurutnya suksesi kekuasaan itu tidak akan membahayakan
Mehmed maupun Kesultanan Turki Ustmani.
Amanlah pokoknya, semuanya
ok. Tapi ternyata tidak semudah itu ferguso.
Tetep aja, walaupun dalam sistem
pemerintahan monarki itu sudah jelas jika rajanya turun, secara otomatis
anaknya yang menggantikan. Tapi karena Mehmed ini masih remaja dan ayahnya juga
masih hidup, pejabat senior tidak dapat menerimanya begitu saja.
Pengangkatan Mehmed sebagai
sultan muda mendapat penolakan dimana-mana. Termasuk wazir agung dan kepala
intelejen kesultanan Turki Usmaniyah yang nota bene merupakan orang-orang
kepercayaan Sultan Murad.
Ujian yang dihadapi Sultan Mehmed
tidak berhenti sampai disitu, ia juga harus menghadapi pemberontakan yang
terjadi di Karaman dan protes dari Askeri
Janisari (angkatan militer Turki Ustmani) yang meminta kenaikan gaji dua kali
lipat. Mereka juga mengancam boikot, tidak akan maju ke medan tempur jika tidak
dipimpin langsung oleh Sultan Murad.
Konflik politik yang melanda pemerintahan dalam negeri Turki Ustmani, dipandang oleh pihak musuh sebagai titik lemah untuk mengalahkan kesultanan Turki Ustmaniyah. Negara-negara yang berada di wilayah Kristendom-pun segera bergerak melakukan konsolidasi, menyatukan kekutan yang selama ini tercerai berai untuk mengobarkan perang suci dibawah komando Paus.
Tidak ketinggal juga Ratu Barbara
Celje, Permaisuri kerajaan Hungaria
bertopeng ini melakukan berbagai upaya licik dan jahat melalui abdi-abdi
setianya yang tergabung dalam pasukan hitam. Termasuk memanggil dua prajurit
Kristendom Hitam dan Putih.
Dapatkah Sultan Muhammad Al-Fatih
menyelamatkan negaranya?
Hingar Bingar Panggung Politik
Buku The Chronicles Of Ghazi The
Beginning Of The Qonquest ini walaupun penulis mengemas fakta sejarah dengan
diksi yang ringan sehingga membacanya menjadi sangat seru dan menghibur. Tetapi
buku ini tidak dapat dikategorikan sebagai novel yang bisa diselesaikan sekali duduk.
Cerita yang tersaji dalam The
Chronicles Of Ghazi The Beginning Of The Qonquest ini jika ditelisik lebih
dalam, sejatinya menyuguhkan bagaimana hingar bingar di dunia politik yang
terjadi saat itu.
Penulis mengajak para pembaca
untuk memahami bahwa sebuah fenomena politik yang terjadi, tidak cukup hanya
dengan melihat panggung depannya saja. Kita juga harus memahami hal-hal yang
tejadi di bagian belakang panggung politik yang pertarungannya kadang-kadang
lebih keras dan penuh intrik dibandingkan dengan yang terlihat di panggung
depan.
Dari buku yang diceritakan dengan
menggunakan alur maju dari sudut pandang orang ketiga (POV 3) ini. Saya sangat
terkesan dengan Sultan Muhammad Al- Fatih, ketika akan melakukan sesuatu selalu memohon petunjuk dari Allah Swt terlebih dahulu dan meminta nasihat kepada
orang tua maupun gurunya.
Saya paling suka dengan nasihat
bijak Syaikh Aaq Syamsudin, saat Mehmed begitu terpuruk dan merasa dipermalukan
luar biasa di depan rakyatnya.
“Percayalah kepada
pertolongan Allah walau semua orang meragukanmu, Mehmed. Yakinlah bahwa Dia
pasti akan memberi jalan keluar. Dan terkadang jalan keluar itu datang ketika
kita mundur satu langkah, dan di sanalah Allah akan menganugerahkan kekuatan
kepada kita. Mundurlah sejenak, Mehmed, dan persiapkan kekutanmu. Allah takkan
pernah meninggalkan mu”
Begitu menguatkan, tidak
menyalahkan apalagi menghakimi.
Keren bangetkan? Buku ini recommended
untuk dibaca segala usia dan segala cuaca. Gen Z atau remaja yang suka alergi
baca buku sejarah karena bahasanya kaku sehingga cepat bosan dan ngantuk.
Buku ini solusinya (kok kayak
iklan mesin cuci ya wkwkwk), soalnya seru pisan ada gambar ilustrasinya pula
jadi mudah bayangin adegannya. Terus banyak muatan dakwahnya, misalnya nih saat
dalam cerita ada tokoh lelaki yang dinarasikan memakai baju tidak menutup
aurat. Pada catatan kakinya diterangkan kalau aurat laki-laki itu begini
begini.
Buku ini juga tidak terlalu
tebal, dengan keseruan ceritanya plus
penggambaran tokoh dan tempatnya yang cukup detail pasti tidak akan lama
bacanya. Eh tapi saya mau nanya serius sama Ustadz Felix kenapa banyak banget
menggunakan kata “selembar” ya? selembar tenaga, selembar cahaya dan selembar
lain-lainnya.
No comments:
Post a Comment
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.