Thursday, August 14, 2025

The Harem Of Ottoman : Book Review

 

The Harem Of Ottoman : Book Review

Buku The Harem Of Ottoman karya Prof. Dr. Ahmed Akgunduz, begitu saja menarik perhatian. Ketika aku sedang window shopping, melihat-lihat koleksi buku terbaru pada sebuah gerai yang menempati salah satu sudut mall di kotaku. Kenapa? karena pada sampul depannya tertulis “Membantah Tudingan tentang Perbudakan Perempuan di Kesultanan Ustmani”.

“Wow! Ini buku yang  aku cari ” teriaku (tapi dalam hati, kalau teriak beneran malu nanti diliatin orang wkwkwk)

Soalnya begini, walaupun saya bukan orang yang ngerti-ngerti banget tentang sejarah Turki. Khususnya tentang kesultanan Turki Ustmani, tetapi lumayan sering baca bukunya. Karena punya anak yang sangat tertarik dengan sejarah Turki, yang memiliki koleksi buku segambreng lengkap dari A sampai Z.

Jadi asa teu percaya kalau menemukan artikel atau film yang meggambarkan Harem di kesultanan Ustmani , maaf sebagai tempat pesta seks. Tapi mau gimana lagi, karena belum menemukan buku atau artikel yang membantahnya ya sementara diterima aja.

Setelah membaca blurb dan melihat sekilas penulisnya. Tanpa perlu berlama-lama buku bersampul putih yang dihiasi lambang kesultanan Ustmani ini, diterima dengan bahagia dan gegap gempita menjadi bagian keluarga yang menghuni rak bukuku.  (Takut dibilang Rojali kalau enggak jadi beli hahahaha).

Judul Buku : The Harem Of Ottoman | Penulis : Prof. Dr. Ahmed Akgunduz |Pengalih Bahasa : Gilang Fajar Ramadhan |Penerbit : Pustaka Al-Kautsar | Tahun Terbit : 2024, Juni Cetakan Pertama | Jumlah Halaman : 250 |

Apakah Harem Itu?

Dalam tradisi Islam, istilah Harem merujuk pada tempat-tempat yang dilarang untuk dimasuki. Contohnya di Makkah Al-Mukaromah terdapat bagian-bagian tertentu yang tidak boleh dikunjungi, tanpa mengenakan ihram maka tempat itu disebut Harem Syarif. Terdapat juga aturan yang melarang Non-Muslim untuk mengunjungi Makkah dan Madinah, sehingga keduanya disebut al-haramain.

Begitupun dengan rumah-rumah tempat tinggal wanita, dimana pria asing tidak diperbolehkan masuk. Atau sebaliknya rumah tempat tinggal pria, dimana wanita asing tidak diperbolehkan masuk. Dengan makna yang sama, dalam dunia Islam dikenal dengan istilah Harem.

Pada masa Kesultanan Ustmani, rumah dan istana yang menjadi tempat tinggal para negarawan dibagi menjadi dua yaitu Selamlik dan Haremlik. Selamlik tempat Sultan Ustmani menjalankan urusan kenegaraan.Sedangkan Haremlik merupakan bagian istana yang tidak boleh dimasuki, dialokasikan menjadi tempat tinggal para istri sultan yang disebut Harem- I humayun.

The Harem Of Ottoman : Book Review


Sederhananya yang disebut Harem di Kesultanan Ustmani ini adalah bagian istana yang menjadi tempat tinggal istri sultan, yang tidak boleh dimasuki oleh orang yang bukan makhrom. Tetapi ada beberapa buku dan majalah tentang Harem hasil imajinasi para penulis barat, yang mendeskreditkan Kesultanan Ustmani begitu rupa.

Mereka diantaranya menggambarkan kehidupan Harem dalam lukisan, yang memperlihatkan seorang sultan sedang mandi susu dan berfose di tengah pelayan wanita yang  telanjang. Gambar telanjang juga dipergunakan dalam buku yang berjudul “Harem di Kekaisaran Ottoman” Karya Karl Briullov dan buku yang berjudul “Woman in the Ottoman Empire” karya Camille Rogier. Begitupun dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1989 di Amerika Serikat  karya seorang wanita bernama Alev Lytle Croutier dengan judul “Harem The World Behind the Veil” menggunakan hampir semua gambar telanjang.

Buku  The Harem Of Ottoman karya Prof. Dr. Ahmed Akgunduz ini, dihadirkan untuk membantah fitnah tersebut. Pria yang dilahirkan 70 tahun lalu di Diyarbakir Turki ini, membahas Harem secara lengkap dan detail. ia menerangkan secara runut, mulai dari hukum Islam yang mengatur tentang perbudakan dan Jariyah.

Akgunduz sangat menekankan para pemimpin Kesultanan Turki Ustmani  dalam menjalankan kehidupan bernegara maupun kehidupan pribadinya, senantiasa berpegang pada hukum Islam. Termasuk cara mereka dalam memperlakukan budak perempuan (Jariyah) yang menjadi pelayan di Harem. Menurut pemaparan Akgunduz, status Jariyah ini seperti pegawai pada saat ini. Mereka mendapatkan upah, makan, dan perlindungan dari majikannya. 

The Harem Of Ottoman : Book Review


Begitupun ketika budak perempuan (Jariyah) ini, akan dijadikan istri oleh Sultan Ustmani. Sultan senantiasa taat pada hukum Islam yang mengatur masalah ini yaitu :  

1. Sultan menikahi budak perempuannya dengan melakukan akad pernikahan yang dapat ditempuh dengan dua cara  yaitu

a.  Sultan memerdekakan (membebaskan) budaknya sebelum pernikahan, jadi sultan menikahi wanita merdeka.

b. Sultan menikahi budak perempuan melalui sebuah akad pernikahan tanpa memerdekakan budak perempuannya terlebih dahulu.

Tentunya kedua jenis akad pernikahan tersebut mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda ya teman-teman.

2. Menurut hukum Islam, sultan dapat menjalani kehidupan suami-istri dengan budak perempuan yang tidak terikat pernikahan dengan pria lain tanpa akad nikah. Hak ini, yang di tetapkan tuannya disebut hak istifrasy. Untuk mencegah agar hak ini tidak mengarah pada perzinahan dan tidak berubah menjadi kehidupan gundik rahasia, terdapat sejumlah aturan yang harus ditaati.

Selain membahas status budak dan jariyah di Kesultanan Ustmaniyah, Prof. Dr. Ahmed Akgunduz juga seperti mengajak  pembaca untuk mengunjungi Harem secara langsung, yang tidak hanya disajikan dalam barisan kata-kata, tetapi dilengkapi juga dengan foto-foto.

Dia seperti ingin memperlihatkan pada orang-orang heimana mungkin gedung dan ruangan bahkan mulai dari pintu-pintunya yang dihiasi dengan kalimat-kalimat suci ayat-ayat Al-Quran dipakai maksiat?


The Harem Of Ottoman : Book Review


Buku Ini Menurut Aku

Membaca buku  The Harem Of Ottoman ini, saya bukan hanya mendapat pemaparan mengenai keadaan sesungguhnya di Harem Kesultanan Ustmani. Lebih dari itu, saya sedikit banyak menjadi lebih mengerti bagaimana perbudakan dalam pandangan Islam. Hal ini terjadi karena pengalihbahasaannya yang rapih, sehingga lebih mudah memahaminya.

Saya juga setuju dengan testimoni seorang penulis yang juga sejarawan, Yilmaz Oztuna  yang mengatakan  “Buku ini adalah ungkapan kesedihan dan reaksi hati nurani umat Islam terhadap fitnah-fitnah yang ditujukan kepada Kesultanan Turki Ustmani (ottoman), terutama kepada para sultan mereka  

Ayo dong lebih banyak sejarawan muslim yang meng-counter fitnah orang-orang yang tidak suka dengan Islam dengan menghadirkan karya tulis semacam ini.

No comments:

Post a Comment

Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.