Buku The Harem Of Ottoman karya Prof. Dr. Ahmed
Akgunduz, begitu saja menarik
perhatian. Ketika aku sedang window shopping, melihat-lihat koleksi buku
terbaru pada sebuah gerai yang menempati salah satu sudut mall di kotaku.
Kenapa? karena pada sampul depannya tertulis “Membantah Tudingan tentang
Perbudakan Perempuan di Kesultanan Ustmani”.
“Wow!
Ini buku yang aku cari ” teriaku (tapi
dalam hati, kalau teriak beneran malu nanti diliatin orang wkwkwk)
Soalnya
begini, walaupun saya bukan orang yang ngerti-ngerti banget tentang sejarah
Turki. Khususnya tentang kesultanan Turki Ustmani, tetapi lumayan sering baca
bukunya. Karena punya anak yang sangat tertarik dengan sejarah Turki, yang memiliki koleksi buku segambreng lengkap dari A sampai Z.
Jadi
asa teu percaya kalau menemukan artikel atau film yang meggambarkan
Harem di kesultanan Ustmani , maaf sebagai tempat pesta seks. Tapi mau gimana
lagi, karena belum menemukan buku atau artikel yang membantahnya ya sementara
diterima aja.
Setelah
membaca blurb dan melihat sekilas penulisnya. Tanpa perlu berlama-lama buku bersampul
putih yang dihiasi lambang kesultanan Ustmani ini, diterima dengan bahagia dan
gegap gempita menjadi bagian keluarga yang menghuni rak bukuku. (Takut dibilang Rojali kalau enggak jadi beli
hahahaha).
Judul
Buku : The Harem Of Ottoman | Penulis : Prof. Dr. Ahmed Akgunduz |Pengalih
Bahasa : Gilang Fajar Ramadhan |Penerbit : Pustaka Al-Kautsar | Tahun Terbit :
2024, Juni Cetakan Pertama | Jumlah Halaman : 250 |
Apakah Harem Itu?
Dalam
tradisi Islam, istilah Harem merujuk pada tempat-tempat yang dilarang untuk
dimasuki. Contohnya di Makkah Al-Mukaromah terdapat bagian-bagian tertentu yang
tidak boleh dikunjungi, tanpa mengenakan ihram maka tempat itu disebut Harem
Syarif. Terdapat juga aturan yang melarang Non-Muslim untuk mengunjungi Makkah
dan Madinah, sehingga keduanya disebut al-haramain.
Begitupun
dengan rumah-rumah tempat tinggal wanita, dimana pria asing tidak diperbolehkan
masuk. Atau sebaliknya rumah tempat tinggal pria, dimana wanita asing tidak
diperbolehkan masuk. Dengan makna yang sama, dalam dunia Islam dikenal dengan
istilah Harem.
Pada
masa Kesultanan Ustmani, rumah dan istana yang menjadi tempat tinggal para
negarawan dibagi menjadi dua yaitu Selamlik dan Haremlik. Selamlik tempat
Sultan Ustmani menjalankan urusan kenegaraan.Sedangkan Haremlik merupakan
bagian istana yang tidak boleh dimasuki, dialokasikan menjadi tempat tinggal
para istri sultan yang disebut Harem- I humayun.
Sederhananya
yang disebut Harem di Kesultanan Ustmani ini adalah bagian istana yang menjadi
tempat tinggal istri sultan, yang tidak boleh dimasuki oleh orang yang bukan
makhrom. Tetapi ada beberapa buku dan majalah tentang Harem hasil imajinasi
para penulis barat, yang mendeskreditkan Kesultanan Ustmani begitu rupa.
Mereka
diantaranya menggambarkan kehidupan Harem dalam lukisan, yang memperlihatkan seorang
sultan sedang mandi susu dan berfose di tengah pelayan wanita yang telanjang. Gambar telanjang juga dipergunakan
dalam buku yang berjudul “Harem di Kekaisaran Ottoman” Karya Karl
Briullov dan buku yang berjudul “Woman in the Ottoman Empire” karya Camille
Rogier. Begitupun dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1989 di Amerika
Serikat karya seorang wanita bernama Alev
Lytle Croutier dengan judul “Harem The World Behind the Veil” menggunakan
hampir semua gambar telanjang.
Buku
The Harem Of Ottoman karya Prof. Dr.
Ahmed Akgunduz ini, dihadirkan untuk membantah fitnah tersebut. Pria yang
dilahirkan 70 tahun lalu di Diyarbakir Turki ini, membahas Harem secara
lengkap dan detail. ia menerangkan secara runut, mulai dari hukum Islam yang
mengatur tentang perbudakan dan Jariyah.
Akgunduz sangat menekankan para pemimpin Kesultanan Turki Ustmani dalam menjalankan kehidupan bernegara maupun kehidupan pribadinya, senantiasa berpegang pada hukum Islam. Termasuk cara mereka dalam memperlakukan budak perempuan (Jariyah) yang menjadi pelayan di Harem. Menurut pemaparan Akgunduz, status Jariyah ini seperti pegawai pada saat ini. Mereka mendapatkan upah, makan, dan perlindungan dari majikannya.
Begitupun ketika budak perempuan (Jariyah) ini, akan dijadikan istri oleh Sultan Ustmani. Sultan senantiasa taat pada hukum Islam yang mengatur masalah ini yaitu :
1.
Sultan menikahi budak perempuannya dengan melakukan akad pernikahan yang dapat
ditempuh dengan dua cara yaitu
a. Sultan memerdekakan
(membebaskan) budaknya sebelum pernikahan, jadi sultan menikahi wanita merdeka.
b.
Sultan menikahi budak perempuan melalui sebuah akad pernikahan tanpa memerdekakan
budak perempuannya terlebih dahulu.
Tentunya
kedua jenis akad pernikahan tersebut mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda
ya teman-teman.
2. Menurut hukum Islam, sultan dapat menjalani kehidupan suami-istri dengan budak perempuan yang tidak terikat pernikahan dengan pria lain tanpa akad nikah. Hak ini, yang di tetapkan tuannya disebut hak istifrasy. Untuk mencegah agar hak ini tidak mengarah pada perzinahan dan tidak berubah menjadi kehidupan gundik rahasia, terdapat sejumlah aturan yang harus ditaati.
Selain membahas status budak dan jariyah di Kesultanan Ustmaniyah, Prof. Dr. Ahmed Akgunduz juga seperti mengajak pembaca untuk mengunjungi Harem secara langsung, yang tidak hanya disajikan dalam barisan kata-kata, tetapi dilengkapi juga dengan foto-foto.
Dia seperti
ingin memperlihatkan pada orang-orang hei…mana mungkin gedung dan ruangan bahkan mulai dari
pintu-pintunya yang dihiasi dengan kalimat-kalimat suci ayat-ayat Al-Quran dipakai
maksiat?
Buku Ini Menurut Aku
Membaca
buku The Harem Of Ottoman ini, saya
bukan hanya mendapat pemaparan mengenai keadaan sesungguhnya di Harem
Kesultanan Ustmani. Lebih dari itu, saya sedikit banyak menjadi lebih mengerti
bagaimana perbudakan dalam pandangan Islam. Hal ini terjadi karena pengalihbahasaannya
yang rapih, sehingga lebih mudah memahaminya.
Saya
juga setuju dengan testimoni seorang penulis yang juga sejarawan, Yilmaz Oztuna
yang mengatakan “Buku ini adalah ungkapan kesedihan dan reaksi hati nurani umat
Islam terhadap fitnah-fitnah yang ditujukan kepada Kesultanan Turki Ustmani
(ottoman), terutama kepada para sultan mereka “
Ayo
dong lebih banyak sejarawan muslim yang meng-counter fitnah orang-orang
yang tidak suka dengan Islam dengan menghadirkan karya tulis semacam ini.
No comments:
Post a Comment
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.