Monday, January 3, 2022

Resensi Novel Almasih Putra Sang Perawan

Resensi novel Al Masih Putra Sang Perawan,  saya tulis setelah kurang dari seminggu buku setebal 450 hal ini selesai dibaca. Novel Al Masih Putra Sang Perawan, bukan buku pertama karya Tasaro GK yang saya koleksi.

Tema-tema langka yang sering disajikan selalu menarik perhatian. Terhitung ada tujuh buku karya penulis yang sudah saya nikmati. Diawali dengan tetralogi Muhammad, Nibiru, kemudian dwilogi Al-Masih Putra Sang Perawan.

Novel ini mengungkapkan kisah tentang Maryam, Maria, Miryam sebuah nama yang disematkan kepada perempuan suci putri Imran oleh ketiga agama. Kisah kehamilan yang mu’zizati dan keluruhan akhlaknya, senantiasa didengungkan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi. Digoreskan dengan tinta emas dalam kitab suci yang mulia.

Sungguh saya merasa cemburu betapa orang-orang saleh senantiasa dekat dengan pertolongan Sang Pencipta. Seperti keluarga Imran, berkat kesabaran menantikan buah hati dengan penuh keimanan, mengundang kemurahan Allah untuk mengabulkan doa mereka yang dikabarkan langsung oleh malaikat. Begitupun dengan Nabi Zakaria dan istrinya yang tidak berhenti memohon selama 70 tahun.

Penulis mengisahkan kelahiran Al-Masih yang ditafsir dari dua kitab yaitu Injil dan Al-Quran. Berkelindan dengan kisah Mateo Gesu dan Saathi yang terdampar di Batavia. Dua puluh tahun setelah gagalnya  Raja Jawa terkenal, Sultan Agung, menaklukan kota yang dikuasai oleh kompeni (VOC) yang kini menjadi Ibu Kota Negara Indonesia yaitu Jakarta.

Batavia

Kota harapan bagi seorang gadis Mataram bermata biru. Ia datang ke Batavia untuk mengadu nasib  bersama kedua adiknya yaitu Byoma dan Mletik. Dengan mengendarai gerobak yang ditarik oleh sepasang kerbau, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi juga sebagai rumah tempat mereka berteduh.  

Namun Batavia yang di huni oleh masyarakat dari berbagai etnis diantaranya  Moor, Belanda (Eropa), Tionghoa, dan masyarakat pribumi dengan berbagai agama yang diimani. Terlalu kejam bagi gadis bersuara emas yang piawai menembang “Sastra Gending” itu.


Resensi Novel Al-Masih Pura Sang Perawan

Gendingnya bergerak dalam tangis karena keagungan penjelasannya, kewajiban seluruhnya perbuatan yang membawa kebahagiaan. Kebahagiaan tujuan hidup.

Saathi harus kehilangan segalanya, bukan hanya harus terpisah dengan kedua adik serta kehilangan harta benda. Lebih dari itu, dia juga harus kehilangan kemerdekaan diri, hidup terhina sebagai seorang budak.

Pertemuannya dengan Gesu, naturalis berkebangsaan Italia, yang mempunyai misi suci mencari sebuah reliqui di Batavia. Membawa secercah harapan bagi budak Ny. Lyzbeth van Hoorn itu. Namun lelaki yang pada awal pertemuan sempat diteriaki hantu oleh Byoma ini pun, memiliki masalah yang tidak kalah pelik dengan Saathi.

2in1

Novel Al-Masih Putra Sang Perawan ini, genre favorit saya banget. Sebuah karya literasi yang tidak hanya menghibur tetapi juga mencerahkan. Banyak ilmu pengetahuan yang terserap ketika tiba pada halaman akhir .

Penulis mengungkap fakta sejarah tentang kerukunan umat beragama yang hidup dalam sebuah wilayah yang bernama Batavia. Ceritanya sangat mengalir menggunakan diksi yang mudah difahami, walaupun tidak seringan teenlit. Awalnya sempat agak loading, ketika menyimak banyak dialog berbahasa melayu yang digunakan pada abad 17.

Ada satu kata yang saya anggap  tidak dipergunakan lagi dalam kosa kata Bahasa Indonesia saat ini, karena tidak cukup familiar. Ternyata saya yang kurang update, kata terperanyak ada dalam KBBI yang berarti jatuh terduduk dengan tiba-tiba; jatuh duduk; terjelepok.

Teladan Maryam

Sebuah harapan begitu saja terbersit dalam hati, ketika sampai pada ujung kisah. Semoga novel pemenang ketiga kompetisi ide se- Asia Tenggara ini, dapat menginspirasi setiap perempuan untuk senantiasa menjaga kesucian diri dengan memegang teguh ajaran yang diyakininya. Sebagaimana Maryam, perempuan ahli surga yang disebut Rasulullah Saw dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik

“Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulallah SAW, Khadijah binti Khawailid dan Asiyah, istri Firaun." (HR Muslim dan Hakim)."

Hal inilah yang mendorong saya untuk menulis resensi novel Al Masih Putra Sang perawan.

 

Judul Buku : Al-Masih Putra Sang Perawan | Penulis : Tasoro GK | Penerbit : Bentang Pustaka | Jumlah Halaman : 450 Halaman | Tahun Terbit : 2021, Cetakan Kedua | ISBN : 978-602-291-742-7 | Harga : Rp. 119.000 (Pulau Jawa) |

 

39 comments:

  1. seru nih mom review buku, nambah ilmu dan jadi bisa share ceritanya nih

    ReplyDelete
  2. Makasih ya sudah bikin reviewnya jadi terinspirasi buat baca

    ReplyDelete
  3. Makasih reviewnya. Dapet inspirasi nih buat nyari buku

    ReplyDelete
  4. Thanks untuk review nya mom.. semoga semakin banyak yang share seperti ini jadi bisa menumbuhkan minta untuk baca buku..

    ReplyDelete
  5. Terimakasih reviewnya mom.. Menginspirasi sekali

    ReplyDelete
  6. Seneng banget aku bisa dapat ilmu tambahan jadinya makasih bunda

    ReplyDelete
  7. Waw keren y mom semangat bacanya, daging semua lagi 😍 smoga aku bisa ngikutin mom ya smngatnyaπŸ˜ŠπŸ‘

    ReplyDelete
  8. MasyaAllah ceritanya inspiring banget yaa mom 😍😍

    ReplyDelete
  9. Sangat menginspirasi dan rekomen yaa, nambah Lg buat list bacaan buku, makasih reviewnya πŸ€—

    ReplyDelete
  10. Sangat menginspirasi banget mom ceritanya . Jadi semangat baca

    ReplyDelete
  11. aku pernah liat judul buku ini, penasaran isinya apa. jadi pengen baca

    ReplyDelete
  12. Keren sih mom masih bisa nyempetin baca buku.. hobby ya mom?

    ReplyDelete
  13. Bagus sekali ulasannya mom twrimakasih yaa

    ReplyDelete
  14. Keren mom ceritanya pgen belajar nulis juga

    ReplyDelete
  15. keren ceritanya, pengen baca lengkapnya deh

    ReplyDelete
  16. Menarik sekali bukunya, makasih umi udah sharing kasih info yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  17. menarik dan keren bgt ceritanya ihh πŸ₯°

    ReplyDelete
  18. Bacaannya menggigit semua, ya. Salut deh, bisa konsisten baca buku tebel-tebel kayak gini. 😍

    ReplyDelete
  19. Masyaa Allah, jadi pengen qtime sama novel ini...

    ReplyDelete
  20. Penasaran bridging antara kisah Batavia dan Maryam. Mungkin bisa dikasih spoiler sedikit

    ReplyDelete
  21. Tasaro GK emang juaranya meramu kisah asli dalam bentuk novel yaa 😍 duh kudu dimasukkan wishlist nih

    ReplyDelete
  22. Teladan wanita sepanjang zaman: Maryam

    ReplyDelete
  23. Maryam... sosok wanita soleh yang menjadi teladan.
    Kalau nggak salah, ada juga yang sudah mwmbuat film tentang bunda maryam ini.

    ReplyDelete
  24. Weits, wishlist setelah lautan bercerita nih!😊

    ReplyDelete
  25. masyaAllahu, Ibunda Maryam, memang menggambarkan sosok wanita yang penyabar dalam menjaga iffahnya. semoga kita bisa mengikuti jejaknya. thakyou, mba for sharing.

    ReplyDelete
  26. MasyaAllah untuk kisahnya ya Kak, keren nih revieewnya, berasa pengen baca full aku.

    ReplyDelete
  27. Wuih, toss nih sesama penggemar Tasaro GK. Aku juga collect, Mbaaa ... buku-bukunya. Gaya bahasanya yang paling aku suka. Nyandu banget! Tetralogi Muhammad, Patah hati di Tanah Suci, termasuk buku Al Masih ini. Sudah lama beli, sih ... tapi belum sempat baca. Thanks reviewnya.

    ReplyDelete
  28. MasyaAllah..aku juga suka tulisan Abah Tasaro. Semoga nanti bisa baca yang ini juga. Makasih review-nya ya mbak

    ReplyDelete
  29. Waaah, menarik sekali ulasannya, Kak. Novel selalu jadi pilihan asyik untuk menemani me time. πŸ₯°

    ReplyDelete
  30. Woww..pilih resensinya sungguh luar biasa sekali. Saya yang tidak pernah mendengar tentang novel ini jadi membaca resensinya berulang-ulang, dan semakin penasaran dengan isinya.

    Thanks mbak untuk resensi dan sharingnya, luar biasa sekali. You done it very well

    ReplyDelete
  31. Saya baru mendengar judul bukunya, hehe mungkin terlalu kudet, ya. Dari resensinya jadi tahu dan sepertinya emang menarik. Meski tebal juga. Tandai, deh. Mudah-mudahan bisa nemu novel ini. Terima kasih sudah berbagi.

    ReplyDelete

Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.