Gara-gara melihat postingan Instagram Story
seorang teman, aku langsung terpesona dengan keindahan Gunung Galunggung.
Gunung yang pernah meletus hebat pada tahun 1982 ini memang jadi salah satu
ikon utama Tasikmalaya. Makanya, rasanya belum sah jadi warga lokal kalau belum
pernah menginjakkan kaki di sini!
Sebenarnya, aku pernah mengajak teman-temanku
untuk healing ke sana, tapi respons mereka ragu-ragu. Dari lima orang,
cuma satu yang antusias dan langsung setuju. Sisa lainnya langsung menunjukkan
muka "mode mikir keras". Intinya, mereka takut tidak kuat mendaki.
Tapi kalau sudah rezeki, memang tidak akan ke
mana. Hari Sabtu, aku dan suami awalnya berniat jogging ke Situ Gede.
Namun, tanpa angin tanpa hujan, di tengah jalan mendadak dia mengajak ke Gunung
Galunggung. Tanpa persiapan apa pun, aku langsung mengiyakan—mumpung ada teman,
daripada tidak pernah kesampaian, ya kan?
Ternyata perjalanan dari rumahku ke Gunung
Galunggung tidak terlalu jauh. Dengan naik sepeda motor, hanya butuh waktu
sekitar 41 menit untuk sampai di sana. Perjalanan tidak terasa melelahkan
karena kondisi jalan sangat mulus. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan
perkampungan yang asri, semakin meriah dan cantik oleh hiasan bendera menjelang
perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Walau begitu, dasar fisik sudah berasa
lansia, kaki sempat kesemutan juga dan harus bolak-balik ganti posisi duduk,
hehe.
Sebelum naik ke area utama Gunung Galunggung,
kita wajib membayar tiket masuk di loket pembayaran Desa Linggajati. Harganya
Rp37.000, sudah termasuk biaya parkir.
Dilema Pilih Tangga: Kuning vs Biru
Saat kami bertanya kepada petugas loket, si Aa
cuma bilang kalau jumlah anak tangga biru lebih sedikit dibanding tangga
kuning—tanpa menjelaskan lebih rinci. Faktanya, tangga kuning punya 620 anak
tangga (sekitar 315 meter), sedangkan tangga biru "hanya" 510 anak
tangga (250 meter). Mendengar penjelasan singkat itu, kami dengan cepat
memutuskan memilih tangga biru dengan asumsi bakal lebih friendly untuk
kaki kami.
Setelah membayar tiket dan menyempatkan mampir
ke toilet, kami melanjutkan perjalanan. Jalannya cukup lebar dan mulus dengan
pemandangan hijau serta udara dingin khas pegunungan. Sebenarnya jarak dari
loket ke area parkir tidak terlalu jauh (sekitar 2,8 km). Namun, medannya
menanjak curam dan dipenuhi belokan tajam yang sukses bikin deg-degan, jadi
waktu tempuhnya terasa lebih lama. Saran dari aku, kalau mau ke sini, pastikan
kondisi motor atau mobil kalian benar-benar prima, ya!
Suasana mendung dan berkabut menyambut kami di
area parkir tangga biru yang luas. Mungkin karena akhir pekan, walau masih
pagi, pengunjung sudah cukup ramai. Ini terlihat dari deretan motor dan mobil
yang terparkir rapi. Warung-warung makan di bangunan semi-permanen juga tampak
sibuk melayani pembeli. Aku pun menyempatkan beli minuman dan sedikit camilan
untuk mengganjal perut.
![]() |
Perjuangan Menuju Puncak Kawah
Setelah persiapan siap, bismillah, let’s go
kita memanjat!
Dengan penuh semangat, aku menaiki tangga satu
per satu. Walau sempat agak waswas karena cuaca mendung dan kabut tebal rasanya
kurang mendukung, ternyata ada untungnya juga. Suasana yang agak gelap membuat
kecuraman tangganya jadi tidak terlalu kelihatan. Apalagi di depanku ada
seorang ibu-ibu yang lebih senior dariku, tapi bisa melenggang naik ke atas dengan
mulus.
"Ah, masa aku enggak bisa?" batinku
membakar semangat.
Ternyata, eng-ing-eng... Walaupun anak
tangganya lebih sedikit, tangga biru itu beneran curam! Aku sampai ngos-ngosan
berat. Tapi untungnya, berkat saran dari suamiku, aku berhasil sampai ke atas
dengan teknik jalan pelan-pelan dan istirahat sejenak tiap tiga anak tangga.
Terbayar Tuntas di Atas Kawah
Pernah dengar peribahasa "Berakit-rakit
ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang
kemudian"? Kalimat itu rasanya pas banget menggambarkan perjuanganku
menaklukkan tangga biru. Semua rasa lelah langsung terbayar tuntas saat diberi
bonus pemandangan indah Kawah Galunggung yang sangat menyejukkan mata.
Oh iya, teman-teman! Di atas kawah, selain
bisa menikmati pemandangan dan berfoto di tugu bertuliskan Ngarai Galunggung,
kita juga bisa menyusuri jalur ke atas lagi sampai ke area tower. Jangan
khawatir kelaparan kalau tidak bawa bekal, karena di atas banyak warung yang
menjual mi instan, makanan ringan, serta minuman hangat. Tapi, tetap hati-hati
dengan makananmu karena banyak monyet yang berkeliaran. Fasilitas musala dan
toilet juga ada (toiletnya bersih, cukup bayar Rp3.000 saja).
Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga main
ke Gunung Galunggung. Fix, sah deh jadi orang Tasik, hehehe!
For your info, kalau
saat turun kamu takut lewat tangga karena khawatir menggelinding, kamu bisa
memilih jalur alternatif berupa track yang sangat landai—mirip dengan track
jalan santai di Situ Gede. Kayaknya kalau nanti aku main ke Galunggung lagi,
aku mau lewat jalur landai itu saja deh. Atau setidaknya lewat tangga kuning
biar jalurnya tidak terlalu curam.
Bagaimana teman-teman, ada yang tertarik untuk
mencoba penjelajahan ke sini?



Posting Komentar untuk "Sah Jadi Orang Tasik: Pengalaman Menaklukkan Tangga Gunung Galunggung"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.