Kejutan Manis (dan Gurih) di Gudeg Sagan: Cerita Sarapan di Dekat Kampus UGM

Kejutan Manis (dan Gurih) di Gudeg Sagan: Cerita Sarapan di Dekat Kampus UGM

Teman-teman pernah enggak merasa beruntung banget ketika makan di sebuah restoran yang sebelumnya tidak pernah tahu track record-nya, tapi makanannya enak banget? Itu yang saya rasakan ketika sarapan di Gudeg Sagan yang ada di Jalan Prof. Herman Johannes No. 53, Samirono, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Beberapa bulan yang lalu, saat kami mengantar si sulung yang akan melanjutkan studi S2 di UGM, kami excited banget keliling-keliling kampus sekalian jalan pagi. Walaupun bukan kunjungan pertama kami ke Yogya, kami belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kampus yang telah melahirkan banyak orang hebat di Indonesia ini.

Ternyata kampus UGM itu luas banget—sekitar 300 hektar. Menelusuri kampus demi kampus dengan berjalan kaki bikin gempor. Matahari pun semakin meninggi hingga energi makin terkuras, apalagi kami belum sarapan.



Waktu mencari tempat makan di dalam kampus, tidak ada satu pun kantin yang buka. Mungkin karena saat itu masih musim liburan semester.

“Cari tempat makan di luar kampus aja,” usul si bungsu sambil mengetikkan beberapa kata kunci di kolom pencarian.

Kami semua melihat ke layar gawai yang dipegang si bungsu ketika keluar beberapa rekomendasi tempat makan terdekat.

“Ini Gudeg Sagan udah buka. Dekat lagi, hanya beberapa ratus meter aja,” kataku.

“Masa pagi-pagi makan gudeg?” sahut suamiku.

Sebagai Sundanese, jujur asa teu biasa kalau harus sarapan gudeg. Kami di Tasik biasanya sarapan nasi TO, bubur ayam, nasi kuning, leupeut sama bala-bala dan sebangsanya. Galau dong, mana perut makin keroncongan lagi.

“Enggak apa-apa, Bi, menunya ada bubur kok,” kata si sulung sambil menunjuk daftar menu.

Okay, let’s go! Kami sepakat sarapan bubur di Gudeg Sagan.

Bener aja, lokasi Gudeg Sagan ini tidak jauh dari UGM. Tinggal menyeberang jalan beberapa ratus meter, sampai deh di restoran yang sudah beroperasi sejak tahun 2000 ini. Mungkin karena masih pagi dan baru buka, suasananya masih lengang. Hanya ada satu meja di area outdoor yang terisi empat orang yang sedang sarapan.

Kejutan Manis (dan Gurih) di Gudeg Sagan: Cerita Sarapan di Dekat Kampus UGM


Kami memilih tempat di area indoor dekat kipas angin karena si sulung sudah kegerahan, lalu memesan 4 porsi bubur. Namun, ternyata menu bubur baru tersedia siang hari—kalau tidak salah pelayannya bilang jam 14.00.

“Yah, gimana dong?” kataku sedikit kecewa.

Akhirnya, karena sudah lapar dan malas mencari tempat makan baru, kami memesan 4 porsi paket menu gudeg, nasi, krecek, tempe, dan ayam plus es teh manis.

Tidak pakai lama, pesanan pun tiba di meja kami. Ternyata, Teman-teman, gudeg yang disajikan adalah gudeg basah dengan kuah santan kental melimpah (nyemek). Dari penampilannya saja, saya sudah yakin kalau gudegnya enak. Tapi tetap saja masih menyimpan sedikit kekhawatiran, “Kemanisan enggak ya?”



Saat suapan pertama, kekhawatiranku langsung lenyap. Tidak ada rasa manis berlebihan; yang ada hanya perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas yang sangat seimbang memenuhi lidah saya. Sangat cocok dengan lidah Sundanese saya! Ayamnya empuk banget, begitupun dengan kreceknya—pedasnya pas dan menjadi penyeimbang rasa. Tidak heran dalam waktu singkat, makanan itu tandas tak bersisa, hehehe.

Oh iya, di Gudeg Sagan ini Teman-teman juga bisa memesan minuman dalam kemasan (seperti Nipis Madu atau air mineral) dan puding yang ditempatkan di dalam kulkas terkunci. Jadi, kita harus meminta bantuan pelayan untuk mengambilkannya dan langsung membayarnya saat itu juga, begitu pula dengan kerupuk. Pesan dan bayarnya terpisah dari menu gudeg utama. Ini agak sedikit riweuh sih menurut saya.

Overall, saya sangat puas makan di sini dan pasti bakal mampir lagi kalau ke Jogja. Selain makanannya lezat, pelayanannya cepat, lingkungannya bersih, dan harganya pun ramah di kantong.







Posting Komentar untuk "Kejutan Manis (dan Gurih) di Gudeg Sagan: Cerita Sarapan di Dekat Kampus UGM"