Saya bukan pecinta kopi dan tidak mempunyai referensi tentang rasa kopi yang enak. Tapi waktu nyicipin kopi susu di Kopi Klotok, saya langsung jatuh cinta dengan rasanya.
Sempat Galau Antara Kopi Klotok dan Warung Icikiwir
Teman-teman yang tinggal atau sering ke Jogja pasti tahu banget dong dengan resto Kopi Klotok yang ada di Pakem, Sleman. Kata driver kami, resto itu hype banget dan selalu dipenuhi pengunjung. Makanya saya langsung tertarik mencobanya untuk makan siang sepulang adventure Jeep Merapi dan ATV Kaliurang.
Sebenarnya Pak driver sempat menawarkan tempat makan siang lain, yaitu Warung Icikiwir yang jadi langganan customer beliau. Saya sempat galau—kalau memungkinkan ingin mendatangi keduanya, hehehe. Soalnya saya pernah menonton video review kedua resto tersebut. Kalau dipaksakan ke Kopi Klotok, takutnya penuh dan tidak dapat tempat duduk.
“Kita ke Kopi Klotok aja dulu, kalau penuh baru kita ke Icikiwir,” kata saya mengambil jalan tengah.
Sensasi Kopi Susu dan Pisang Goreng Jumbo yang Juara
Bener aja, Teman-teman. Pas kami sampai di Kopi Klotok suasananya ramai banget sampai parkirannya meluber. Beruntung Pak driver sigap menemukan meja kosong untuk kami, persis di dekat area racik kopi.
Begitu duduk, pandanganku langsung tertuju pada deretan gelas kaca tempat kopi disajikan. Pilihan menu utamanya ada kopi hitam dan kopi susu. Sebagai penikmat kopi wannabe, pilihan aman buat asam lambungku tentu jatuh pada kopi susu. Tapi kalau Teman-teman tidak suka atau tidak bisa minum kopi, jangan galau dulu. Di sini juga ada minuman non-kopi lainnya kok, seperti es teh manis, teh tawar, wedang jahe gepuk, teh manis panas, hingga teh tubruk gula batu.
Bicara soal kopi, pasangan paling pasnya jelas pisang goreng hangat. Boleh saja dianggap lebay, tapi pisang goreng Kopi Klotok ini jujur paling juara yang pernah kucicipi: manis, krispi, dan ukurannya super jumbo!
Keseruan lainnya ada pada cara memesannya. Kita harus pesan langsung ke mas-mas yang sibuk menggoreng di dapur, jadi kita bisa menyaksikan langsung atraksi wajan-wajan raksasa berisikan minyak mendidih. Meskipun si Mas cuma mencatat pesanan serba cepat dan ala kadarnya, heran deh, pesanan pengunjung tak pernah sekalipun tertukar!
Ngomong-ngomong, aku makin yakin kalau resto ini memang terkenal banget. Waktu antre order pisang goreng, dinding di sepanjang lorong dapur dipenuhi pajangan foto dan tanda tangan para pesohor negeri yang pernah datang ke sana. Mulai dari artis, pengusaha, sampai pejabat. Keren, kan?
Menu Masakan Rumahan yang Homey dan Terjangkau
Selain kopi dan pisang gorengnya yang legendaris, Warung Kopi Klotok menyajikan menu makanan sederhana yang homey banget. Pilihannya ada aneka macam sayur lodeh (lodeh tempe lombok ijo, lodeh kluwih, dan lodeh terong), nasi putih, sego megono, telur krispi, ayam goreng, pindang goreng, tahu bacem, tempe garit, hingga sambal dadak.
Waktu itu saya memilih sayur lodeh tempe lombok ijo. Kuah santannya gurih pas dengan sengatan pedas irisan cabai hijau yang segar. Makin mantap saat dipadukan dengan telur krispi yang gurih berenda, tahu bacem yang manisnya meresap, serta tempe garit yang renyah di luar tapi lembut di dalam.
Sementara anak-anak dan suami, karena tidak suka pedas, memilih sayur lodeh kluwih. Tekstur kluwihnya lembut dengan kuah yang gurih lembut khas masakan rumahan Jawa. Walaupun menunya sangat sederhana, rasanya benar-benar lezat memanjakan lidah dan harganya pun ramah banget di kantong.
Oh ya, makanan di sini disajikan secara prasmanan, jadi kita mengambil sendiri makanan-makanan tersebut. Tapi ingat, harus bergantian dan jangan sampai meninggalkan meja dalam keadaan kosong saat mengambil makanan, nanti malah ditempati pengunjung lain!
Atmosphere ala Rumah Nenek & Tips Fasilitas Mushola
Menurut anak-anakku, makan di Warung Kopi Klotok yang buka dari jam 07.00 sampai jam 22.00 WIB ini rasanya seperti sedang pulang ke rumah nenek. Bukan hanya karena menunya saja, tetapi juga bangunannya yang berupa rumah joglo lengkap dengan halaman yang luas.
Tak hanya tempatnya yang hangat ala rumah nenek, fasilitas di sini juga sangat memikirkan kenyamanan pengunjung. Kalau Teman-teman berkunjung ke sini pas mepet jam salat, tidak perlu khawatir karena di sini ada dua mushola, yaitu di area dalam dan luar. Saya menyarankan lebih baik pilih mushola yang di luar—selain tempatnya lebih besar, antrean wudunya juga jauh lebih cepat.
Cerita Inspiratif: Rahasia Keberkahan di Balik Larisnya Kopi Klotok
Selain terkesan dengan kuliner dan suasananya yang adem berlatar pemandangan sawah, ada satu momen yang paling berkesan buat saya hari itu. Momen itu hadir lewat obrolan singkat dengan ibu penjaga toilet di area mushola.
Di tengah riuhnya pengunjung yang datang tanpa henti, Ibu tersebut menceritakan rahasia di balik larisnya Warung Kopi Klotok. Padahal, tempat makan yang menyajikan menu serupa tentu banyak. Kunci utamanya ternyata terletak pada keterbukaan hati sang pemilik untuk selalu royal bersedekah.
Mendengar cerita itu, saya sungguh kagum. Spontan mulut ini tak henti-hentinya mengucap puji dan syukur kepada Sang Pemberi Rezeki. Pengalaman singkat ini menjadi pengingat yang sangat indah bahwasanya janji Allah itu nyata, sebagaimana yang difirmankan dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."
.png)


Posting Komentar untuk "Review Warung Kopi Klotok Jogja: Dari Pisang Goreng Jumbo Sampai Cerita Inspiratif di Sudut Mushola"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.