Liberation of Mind Before Liberation of Land: Membedah Strategi Pembebasan Baitul Maqdis

Liberation of Mind Before Liberation of Land: Membedah Strategi Pembebasan Baitul Maqdis

 

Liberation of Mind Before Liberation of Land

Pernahkah Anda mendengar kutipan di atas melintas di beranda media sosial? Belakangan ini, kalimat “Liberation of Mind Before Liberation of Land” (Pembebasan Pikiran Sebelum Pembebasan Tanah) ramai didengungkan oleh para aktivis pembebasan Palestina dan pemikir Islam. Kutipan ini bukan sekadar slogan puitis, melainkan sebuah konseptualisasi mendalam mengenai bagaimana sebuah bangsa atau peradaban dapat bangkit dari keterpurukan.

Saat membaca kutipan tersebut, ingatan saya langsung tertuju pada salah satu artikel dalam Buku Emas Baitul Maqdis Volume 3. Ketika Baitul Maqdis terlepas dari pangkuan kaum muslimin akibat jatuhnya wilayah tersebut ke tangan tentara Salib pada tahun 493 H / 1099 M, seorang ulama besar tergerak untuk mencari akar masalahnya. Beliau adalah Imam Al-Ghazali.

Melalui pengamatan mendalam, sang Hujjatul Islam menyadari bahwa tragedi jatuhnya Baitul Maqdis bukanlah masalah militer semata. Akar masalahnya jauh lebih sistemik: masyarakat pada masa itu berada dalam kondisi mental yang lemah, terjerumus dalam penyakit hati dan hawa nafsu, serta kehilangan figur ulama yang mampu membimbing umat ke jalan yang lurus.

Untuk mengobati problematika kronis tersebut, Imam Al-Ghazali merumuskan sebuah resep yang bersumber dari Al-Qur'an serta transformasinya di dunia filsafat dan tasawuf. Beliau menyimpulkan bahwa obat terbaik untuk mengembalikan kejayaan umat adalah dengan memprioritaskan pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan. Beliau menyatakan:

“Maka semulia-mulianya langkah sesudah nubuwwah (kenabian) adalah menyebarkan ilmu dan membersihkan jiwa.”

Ilmu Pengetahuan: Fondasi yang Sering Terlupakan

Mungkin muncul pertanyaan di benak kita: apa hubungannya kejatuhan Baitul Maqdis dengan penyebaran ilmu pengetahuan? Bukankah perang dimenangkan dengan senjata?

Selama ini, ada anggapan umum yang keliru bahwa untuk membebaskan atau menaklukkan suatu wilayah, hal pertama dan terpenting yang harus disiapkan adalah kekuatan militer. Namun sejarah mencatat hal yang sebaliknya. Persiapan militer justru berada di urutan paling akhir dari sebuah siklus pembebasan.

Ketika Khalifah Umar bin Khattab ra. pertama kali membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan Romawi, beliau tidak berangkat dengan modal nekat. Pembebasan itu dilakukan lewat sebuah strategi keilmuan yang sangat sistematis. Blueprint strategi tersebut sebenarnya telah dicanangkan secara bertahap oleh Rasulullah saw. semasa hidupnya, yang mencakup tiga fase rencana besar:

  1. Persiapan Keilmuan (Knowledge Preparation): Menanamkan pemahaman akidah, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), serta membangun kesadaran urgensi geografis dan teologis Baitul Maqdis sejak periode Makkah.

  2. Persiapan Politik (Political Preparation): Membangun stabilitas internal umat Islam, memetakan kekuatan wilayah geopolitik, dan menyusun strategi diplomasi.

  3. Persiapan Militer (Military Preparation): Eksekusi fisik di lapangan yang menjadi buah matang dari dua persiapan sebelumnya.

Langkah persiapan keilmuan dan pembersihan jiwa inilah yang dihidupkan kembali oleh generasi madrasah Imam Al-Ghazali saat umat sedang terpuruk. Hasil dari rekonstruksi pemikiran ini sangat luar biasa. Dari rahim umat yang kembali mencintai ilmu dan kebenaran, lahirlah generasi tangguh yang dipimpin oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, sang pembebas Baitul Maqdis. Bahkan, nama besar sang sultan masih senantiasa disenandungkan penuh harap oleh para ibu di Palestina melalui bait syahdu hingga hari ini:

“Udd ya Shalahaddin, ayna anta ya amirul mu’minin…” (Kembalilah wahai Shalahuddin, di manakah gerangan dirimu berada, wahai amirul mukminin).

Liberation of Mind Before Liberation of Land: Membedah Strategi Pembebasan Baitul Maqdis


Gema Kemenangan dan Refleksi Masa Kini

Membaca volume terakhir dari Buku Emas Baitul Maqdis ini memberikan impresi yang jauh lebih emosional bagi saya dibandingkan dengan volume 1 dan 2. Sebab, fokus utama dalam volume ke-3 ini adalah narasi, strategi, dan atmosfer pembebasan Baitul Maqdis.

Buku ini dibuka dengan artikel yang mengulas secara mendalam khutbah Jumat pertama di Baitul Maqdis pasca-pembebasan dari tangan tentara Salib. Khutbah yang sarat makna tersebut dibacakan oleh Qadhi Muhyiddin Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Abu Al-Husain atas perintah langsung dari Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Secara garis besar, sang khatib menisbatkan kemenangan besar tersebut sepenuhnya sebagai anugerah dan kuasa dari Allah SWT, bukan karena kehebatan strategi manusia semata. Narasi historis ini sekaligus mempertegas karakter utama para pejuang Baitul Maqdis: mereka adalah orang-orang yang melandasi perjuangan mereka dengan keikhlasan beribadah dan penyerahan diri yang total kepada Pencipta. Membaca bagian ini membuat saya sangat emosional karena ikut membayangkan atmosfer kebatinan kaum muslimin kala itu—sebuah momen bersejarah yang dipenuhi rasa haru, air mata kebahagiaan, dan sujud syukur yang membuncah.

Lalu, bagaimana langkah strategis agar Baitul Maqdis dapat kembali dibebaskan dari cengkeraman penjajahan hari ini? Jawabannya diulas secara menarik dan kontekstual pada artikel penutup yang ditulis oleh peneliti asal Indonesia.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memahami konstelasi geopolitik dan sejarah Baitul Maqdis lewat data yang valid. Karya ini merupakan kumpulan riset ilmiah multidisiplin dari para akademisi yang tergabung dalam ISRA (Islamicjerusalem Research Academy), sebuah lembaga riset internasional terkemuka yang didirikan oleh Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi. Melalui buku ini, kita akan disadarkan bahwa pembebasan tanah Palestina harus diawali dari pembebasan cara berpikir kita terlebih dahulu.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Buku Emas Baitul Maqdis (Volume 3)

  • Penulis: Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, dkk.

  • Penerbit: MuslimCOMMunity Publishing

  • Tahun Terbit: April 2020 (Cetakan 1)

  • Jumlah Halaman: 320 halaman

9 komentar untuk "Liberation of Mind Before Liberation of Land: Membedah Strategi Pembebasan Baitul Maqdis"

  1. Nyesek banget baca bagian ini, Mbak. Saya juga setuju, pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan memang seharusnya menjadi salah satu prioritas utama kalau ingin membangun masyarakat yang maju dan mandiri. Kalau pendidikan mendapat perhatian yang serius, dampaknya kan bukan hanya untuk satu generasi, tetapi bisa panjang sampai ke generasi berikutnya. Andaikan para pengambil kebijakan di negeri ini benar-benar sadar betapa pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk masa depan bangsa... hiks. Semoga masih banyak yang terus memperjuangkan hal ini dan tidak lelah menyuarakannya.

    BalasHapus
  2. Tulisan ini menarik karena tidak hanya mengajak melihat sejarah Baitul Maqdis, tetapi juga memahami makna spiritual di balik kemenangan tersebut.

    Bagian tentang khutbah pertama setelah pembebasan tentu terasa sangat menggetarkan, apalagi ketika kemenangan itu dikembalikan sebagai pertolongan dan anugerah dari Allah SWT.

    Saya juga setuju bahwa pembahasan sejarah akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan kondisi dan tantangan masa kini.

    Yang paling menarik bagi saya adalah gagasan bahwa pembebasan Baitul Maqdis perlu dimulai dari pembebasan cara berpikir, sehingga kita tidak hanya memahami persoalannya secara emosional, tetapi juga berdasarkan ilmu dan data.

    Buku seperti ini menjadi pengingat bahwa memahami sejarah dengan benar dapat membantu kita melihat persoalan Palestina secara lebih utuh dan bijaksana.

    BalasHapus
  3. Setuju bahwa untuk melakukan sebuah perubahan harus dimulai dengan perubahan pemikiran dulu. Apa lagi jika itu menyangkut urusan banyak orang

    BalasHapus
  4. Obat terbaik untuk mengembalikan kejayaan umat adalah dengan memprioritaskan pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan. Setuju dengan pernyataan ini. Dengan adanya pendidikan maka dapat mengubah cara berpikir menuju suatu perubahan yg lebih baik. Dan juga memahami sesuatu dengan lebih bijak.

    BalasHapus
  5. Pendidikan merupakan poin penting perubahan peradaban. Bagaimana perubahan terjadi secara drastis karena pendidikan yang luar biasa

    BalasHapus
  6. Bukunya bagus banget. Kalau ingin mengetahui seluk beluk Baitul Maqdis sepertinya ini buku yang tepat untuk dibaca. Saya mau beli bukunya buat di perpustakaan.

    BalasHapus
  7. Baitul Maqdis memiliki tempat istimewa bagi umat muslim.
    Liberation of Mind Before Liberation of Land adalah bacaan yang sangat lengkap untuk mengetahui seluk-beluk Baitul Maqdis ya mbak.

    BalasHapus
  8. Setuju banget kalau semua yang terjadi, bukan karena strategi yang hebat dari manusia-manusia pilihan Allah.. namun karena Allah berkehendak terbebasnya tanah yang memiliki nilai historis yang mendalam bagi umat muslim.

    Ka Oemy cakep banget membahas buku Buku Emas Baitul Maqdis sebanyak 320 halaman dengan ringkasan yang mudah dipahami pembaca blog. Sukses bikin kita penasaran...

    BalasHapus

Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.