Mencintai Baitul Maqdis dengan Ilmu Bukan Sekedar Emosi : Resensi Buku Emas Baitul Maqdis (Volume 1)

 

Baitul Maqdis adalah sebuah wilayah di muka bumi yang begitu istimewa dan bergelimang berkah. Tidak kurang dari 10 ayat Al-Qur'an dan belasan hadis menyebutkan keutamaannya. Menurut Prof. El-Awaisi, tempat suci tiga agama Ibrahimiah (Islam, Kristen, dan Yahudi) ini bukan sekadar “Tanah Harapan”, melainkan pusat dari keberkahan, harapan, dan perubahan dunia.

Ikatan spiritual dan keilmuan antara umat Islam dengan Baitul Maqdis telah terjalin sejak diutusnya Rasulullah saw. di Makkah. Ikatan ini semakin dikuatkan oleh peristiwa Isra—perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt. dalam Surah Al-Isra ayat 1:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Perjalanan Isra merupakan representasi perubahan mendasar bagi umat Islam. Peristiwa ini menjelmakan Baitul Maqdis sebagai pusat harapan, keamanan yang abadi, serta aspirasi perubahan yang senantiasa hidup dalam benak umat. Isra Mikraj jugalah yang menggerakkan jiwa dan perasaan umat Islam untuk selalu memautkan hati dan akal mereka ke Baitul Maqdis.

Namun sayangnya, fakta-fakta sejarah tentang Baitul Maqdis—terutama sebelum pembebasan pertama (fath) oleh Khalifah Umar bin Khattab pada bulan Rabiulawal tahun 11 H / 6 Juni 632 M (lima tahun setelah Rasulullah saw. wafat)—banyak diselewengkan oleh akademisi orientalis dan Israel. Mereka bahkan cenderung mendiskreditkan makna penting dan kedudukan Baitul Maqdis dalam Islam.

Di sisi lain, studi tentang Baitul Maqdis yang ditulis oleh akademisi Muslim dalam konteks penelitian masih sangat jarang ditemui. Tulisan yang ada kebanyakan baru bersifat emosional serta belum berpegang pada konsep dan metodology penelitian ilmiah.

Tidak bisa dimungkiri, hal ini terjadi karena sejak Perang Salib, para pemimpin politik cenderung melupakan persiapan keilmuan dalam usaha membebaskan Baitul Maqdis. Mereka lebih mengutamakan hal-hal yang bernuansa politik dan militer.

Kesenjangan inilah yang mendasari pemikiran Prof. El-Awaisi untuk mendirikan Islamicjerusalem Research Academy (ISRA) atau Lembaga Penelitian Studi Baitul Maqdis pada 4 Agustus 1994 di London. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan 14 abad pembebasan pertama Baitul Maqdis oleh umat Islam.

Buku Emas Baitul Maqdis ini menampilkan hasil riset mendalam para ilmuwan Muslim yang menuntun pembaca untuk mengenal wilayah ini secara komprehensif. Dzikrullah W. Pramudya, pendiri ISA (Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian), dalam pengantarnya menegaskan bahwa buku ini bukan semata-mata karya akademik. Ia adalah sepinggan gunung emas sejarah pembebasan Baitul Maqdis yang sedang sama-sama kita daki di zaman ini.

Secara fisik, buku ini terdiri dari 800 halaman yang terbagi dalam tiga volume. Volume 1 sendiri memuat sembilan artikel, di mana lima di antaranya ditulis langsung oleh Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi. Buku dibuka dengan kisah perjalanan panjang putra Hebron ini dalam melahirkan dan memperkenalkan bidang studi Baitul Maqdis sepanjang satu dekade (1994–2024).

Dari sembilan artikel tersebut, yang paling menarik bagi saya adalah artikel berjudul "Teori Baru Geopolitik", terutama saat mengupas Teori Lingkaran Keberkahan Baitul Maqdis. Bab ini membuka mata saya tentang alasan mengapa Baitul Maqdis terus diperebutkan oleh berbagai bangsa sepanjang sejarah hingga saat ini.

Nilai plus lainnya, kualitas terjemahan buku ini sangat bagus dan dilengkapi dengan gambar pendukung yang membantu pembaca awam seperti saya untuk memahami konteks masalah. Ukuran fisiknya juga ramping (seukuran kertas A5). Jadi, meski hadir dalam format hardcover, buku ini tetap travel-friendly untuk dibawa ke mana-mana.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan. Harapannya, agar kecintaan kita kepada Baitul Maqdis tidak lagi sekadar riuh emosi, melainkan lahir dari kesadaran dan ilmu pengetahuan yang kokoh.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Buku Emas Baitul Maqdis (Volume 1)
  • Penulis: Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, dkk.
  • Penerbit: MuslimCOMMunity Publishing
  • Tahun Terbit: April 2020 (Cetakan 1)
  • Jumlah Halaman: 336 halaman

Posting Komentar untuk "Mencintai Baitul Maqdis dengan Ilmu Bukan Sekedar Emosi : Resensi Buku Emas Baitul Maqdis (Volume 1)"