Sunday, September 3, 2023

Resensi Novel Pasung Jiwa Karya Okky Madasari

 

Resensi Buku Pasung Jiwa Karya Okky Madasari

Buku Pasung Jiwa adalah karya Okky Madasari pertama yang saya baca, awalnya enggak niat juga mau membeli buku ini. Kalau sudah jodoh tidak akan kemana, quotes itu kayaknya cocok untuk menggambarkan pertemuan saya dengan buku bersampul ungu muda ini.

Pada suatu akhir pekan saya nge- mall bareng paksu karena ada barang yang harus dicari, dan tidak sah rasanya kalau ke pusat perbelanjaan tidak mampir ke toko buku. Selain itu, saya sudah berniat mau membeli buku yang berjudul  Di Tanah Lada karya ZiggyZezsyazeoviennazabrizkie. Nah buku ini letaknya berdampingan bahkan berdempetan dengan buku tersebut.

Melihat penulisnya Okky Madasari, saya jadi tertarik untuk mengantonginya. Karena saya pernah ikut beberapa kali ikut zoominar yang menghadirkan penulis yang selalu mengangkat tema sosial ini.

Resensi Buku Pasung Jiwa Karya Okky Madasari
Okky Madasari
Sumber gambar : Gramedia.com


Jadi deh dengan senang hati dan suka cita, saya menghabiskan akhir pekan dengan kedua buku ini. Sampai lupa ada undangan botram dari bu RT dalam rangka Agustusan (maaf ya bu RT).   

Judul Buku : Pasung Jiwa | Penulis : Okky Madasari | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama |Tahun Terbit : 2021, Mei Cetakan IV| Jumlah Halaman : 328 halaman | Harga : Rp. 90.000 (Pulau Jawa) | ISBN :  9786020652177

Pasung Jiwa

Buku Pasung Jiwa merupakan kisah seorang anak lelaki yang bernama Sasana. Ibunya berprofesi sebagai dokter bedah dan ayahnya adalah lawyer. Sasana memiliki adik perempuan yang sangat disayanginya yang bernama Melati.

Sasana suka mengucapkan nama adiknya itu secara berulang-ulang, menurutnya Melati adalah suatu nama yang indah. Tidak seperti namanya yang memberi kesan terlalu garang, terlalu keras dan selalu mengingatkannya pada perkelahian dan darah.

Walaupun bukan musisi, kedua orang tua Sasana sangat menyukai  piano. Mereka memanggil guru privat agar kedua anaknya lihai bermain alat musik tuts tersebut . Tidak heran, pada usia belia Sasana sudah pandai memainkan lagu-lagu klasik.

Tetapi saat menginjak remaja, lulus SD, tidak sengaja Sasana melihat pagelaran musik di kampung dekat rumahnya. Musik yang membuatnya bahagia sehingga seluruh tubuhnya ikut bergoyang. Namun orang tuanya tidak suka melihat Sasana bergoyang sambil menyanyikan lagu dangdut.

Orang tuanya beranggapan  bahwa Sasana sedang bosan memainkan piano, kemudian mereka membelikan alat pemutar musik dan membanjiri sulungnya dengan musik pop. Tetapi hal tersebut tidak membuat kesenangan Sasana terhadap musik dangdut  luntur. Setiap malam, anak itu selalu berjoget di dalam kamar dengan diiringi musik dangdut yang berasal dari radio milik asisten rumah tangga mereka.

Resensi Buku Pasung Jiwa Karya Okky Madasari


Bullying

Saat SMP oleh orang tuanya, Sasana dimasukan pada sekolah khusus laki-laki. Saya sempat heran kenapa Sasana tidak dimasukan sekolah umum, soalnya penulis tidak menceritakan alasannya.

Ternyata teman-teman, di sekolah tersebut banyak sekali geng. Sebagai anak baru, Sasana sering di mintai uang. Pada suatu hari mereka meminta uang kepada Sasana melebihi uang jajannya. Karena Sasana tidak dapat mengabulkan keinginan mereka, akhirnya Sasana dihajar di WC belakang sekolah sampai pingsan dan ada beberapa tulang yang patah.

Ibunya sangat sedih melihat kondisi anak sulungnya yang sangat memprihatinkan, ia meminta kepada suaminya agar pelaku dilaporkan kepada pihak berwajib dan di masukan ke dalam sel. Namun sayang, ayah Sasana tidak bisa berbuat apa-apa karena pelaku adalah anak pejabat tinggi. Malah ia kembali dihajar dengan lebih sadis sampai tidak sadarkan diri.

Hal tersebut membuat Sasana trauma dan kecewa dengan keadaan dirinya yang tidak bisa melawan. Kecewa dengan teman-temanya dan kecewa dengan kelaki-lakiannya.

Aku Merdeka

Setelah lulus SMA, Sasana kuliah di Malang mengambil jurusan hukum. Namun tidak sampai satu semester, Sasana memutuskan untuk meninggalkan bangku perkuliahan. Ia lebih memilih panggilan jiwanya, daripada terkurung dalam ruangan gedung-gedung perkuliahan sambil  mendengarkan celotehan dosen yang dianggapnya sangat membosankan.

Berawal dari tawaran Cak Man, pemilik warung kopi, kepada Sasana untuk menghibur pengunjung dengan menyanyikan lagu dangdut. Semestapun sepertinya mendukung Sasana, di warung itu ia bertemu dengan Cak Jek (Jaka Wani) yang piawai bermain gitar jadilah kolaborasi antara musisi dengan vokalis.

Setiap malam Sasana dan Cak jek menyusuri jalan-jalan di Kota Malang menjual suara Sasana yang berkamuflase menjadi seorang SASA, dalam balutan kostum serta riasan wajah dan rambut yang sensual. Goyangan Sasa begitu aduhai dan menggoda para penikmat musik jalanan.

Sasana merasa kehidupan yang dijalaninya bersama Cak Jek sangat membahagiakan. ia  bebas mengekspresikan dirinya tidak perlu lagi bergantung kepada kedua orang tuanya. Namun ketika orkes dangdut Sasa mulai dikenal malapetaka itu datang.

Cak Jek dan Sasana diciduk oleh pihak yang berwajib ketika mereka bersama enam temannya yang lain mendatangi pabrik tempat anaknya Cakman, Marsini, yang tidak lagi terdengar kabarnya setelah berteriak menyuarakan hak-hak para buruh.

Gerombolan Sasana membuat kehebohan di depan pabrik, jalan raya Sidoarjo mendadak macet total ketika Sasana bernyanyi di tengah jalan dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra merah menyala.

Aparat keamanan yang datang ke TKP dalam waktu singkat menghentikan aksi tersebut dan menjebloskan para pelakunya ke dalam penjara. Sasana tidak mengetahui dimana ia ditahan, begitupun dengan nasib Cak Jek, Cak Man dan kawan-kawan lainnya. Karena Sasana menempati sel yang terpisah.

Dalam tahanan, pihak yang berwajib tidak menginterogasi Sasana, tetapi melecehkan anak itu dengan luar biasa. Walaupun penulis menggambarkan dengan cukup sopan, tetapi tetep saya tuh ill feel bacanya.

Resensi Buku Pasung Jiwa Karya Okky Madasari


Bagaimana Nasib Cak Jek?

Buku ini dikisahkan dengan POV orang ketiga menceritakan kisah Sasana, tetapi dalam bab-bab selanjutnya, pasca penahanan, ketika Sasana dan Cak Jek menjalani kehidupan terpisah. Penulis menceritakan kehidupan Cak Jek dalam bab tersendiri.

Jadi tokoh utama dalam novel ini adalah Sasana dan Cak Jek yang berjuang menyingkirkan pasung jiwa yang membelit keduanya. Dapatkah mereka kembali hidup dengan jiwa merdeka? Apakah mereka dapat bertemu kembali?

Ilmu Parenting

Novel Pasung Jiwa selain mengungkap fakta-fakta sosial yang membuatku bergidik ngeri dan beristighfar berkali-kali. Novel ini juga mengajarkan ilmu parenting yang membuatku merenung dan ingin memeluk anak-anak dengan erat.

Saya sangat kagum dengan sikap yang ditunjukan oleh ibunya Sasana, ia tidak marah bahkan dokter bedah itu juga tidak bertanya sama sekali ketika sulungnya pulang ke rumah setelah dua tahun menghilang tak berkabar.

Ibunya juga berulang kali meminta maaf kepada Sasana ketika anak itu masuk rumah sakit jiwa karena trauma berat. Agar anaknya dapat hidup dengan jiwa seutuhnya, perempuan itu mendukung sepenuhnya keinginan dari Sasana dengan bertindak sebagai manajer untuk penyanyi lagu dangdut Sasa. Lebih dari itu ia pun menawarkan anaknya untuk operasi kelamin walaupun ditolak Sasana.

Resensi Buku Pasung Jiwa Karya Okky Madasari


Komunikasi

Setelah membaca novel yang masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2013 ini, saya dapat mengambil pelajaran bahwa komunikasi antara anak dan orang tua adalah kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Menurut psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi)  dalam artikel yang dimuat Antaranews, komunikasi antara anak dan orang tua akan menumbuhkan  empati, keterbukaan, hingga memperkuat hubungan dua arah.

 

 

12 comments:

  1. Berawal dari otoriter dan berakhir dengan kepasrahan karena rasa bersalah, ya. Sedih, sih. Andai kedua orang tuanya bisa lebih bijak memperbaiki apa yang sudah terlanjur salah.

    ReplyDelete
  2. Berat ya..
    Akar masalahnya dari awal Sasana berada di lingkungan yang problematic. Aku jadi memikirkan untuk tetap melindungi anak dari lingkungan dan pengaruh buruk, ini salah satu tugas orangtua. Doa orangtua memang bener-bener jadi benteng terbaik anak agar tidak menuruti semua yang mereka inginkan.

    ReplyDelete
  3. Belum baca bukunya udah ngeri aja nih. Jadi bisa buat pelajaran nih bagaimana lingkungan dan didikan dari rumah sangat berpengaruh pada masa depan anak.

    ReplyDelete
  4. Lama sekali nggak baca buku sastra Indonesia. Ceritanya sangat berkembang dan kekinian sekarang, bagus deh biar bisa ngasih insight aktual untuk pembacanya. Thx ulasan novel Pasung Jiwa-nya.

    ReplyDelete
  5. Termasuk berat juga ya novel Pasung Jiwa ini. Potret-potret kehidupan sosial dan kenyataan yang ada langsung tergambar di sini. Membuat pembacanya mesti terkaget-kaget dan bertanya-tanya tentang kerasnya kehidupan di luar sana. Makasih sudah membuat review novel ini Mbak.

    ReplyDelete
  6. Berat temanya, ngeri bacanya..tapi penuh pembelajaran bagi orangtua. Sesuai judulnya sih otoriter parenting yang hasil akhirnya terpasung jiwa anaknya

    ReplyDelete
  7. Baca review ini agak ngeri, but relate sepertinya dengan gonjang-ganjing dunia parenting di masa kini. Ketika orang tua zaman sekarang dihadapkan dengan banyaknya ancaman seperti LG*Tq, bullying, pelecehan se*sual, dll

    ReplyDelete
  8. Wah, menarik ceritanya
    Relate dengan tantangan parenting saat ini ya mbak, jadi pengen baca juga

    ReplyDelete
  9. Okky emang ngga ada obat kalo nulis fiksi. duh aku belum baca nih yang Pasung Jiwa, otw masukin ke wishlist

    ReplyDelete
  10. Pasung Jiwa sepertinya menarik
    Mau tahu bagaimana diksinya
    Kudu baca ini ya

    ReplyDelete
  11. Pengen baca langsung, dan intip ilmu parentingnya, kalau baca kisah anak anak seperti ini, jadi berkaca ke diri sendiri rasanya belum jadi ibu yang baik

    ReplyDelete
  12. karya okky madasari tuh ya selalu aku eman2 mba wkkwkw soalnya bagus, jadi bacanya pelan-pelan terus akhirnya kelupaan nggak tamat. Makasih sudah diingatkan, salah satu penulis keren indonesia beliau ini

    ReplyDelete

Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.