"Dan ketika malam tiba, sup lentil hangat disajikan..." — Refleksi kisah dalam My Name Is Red karya Orhan Pamuk.
Bagi kita yang hidup di kawasan Asia Tenggara,
khususnya Indonesia, tentu sangat akrab dengan berbagai kuliner berbahan dasar
kacang-kacangan. Kacang hijau, kacang merah, kacang hitam, kacang panjang,
hingga kacang kedelai tumbuh subur dan melimpah ruah di bumi pertiwi.
Lain halnya dengan kacang lentil. Biji-bijian ini utamanya tumbuh di kawasan Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur) di Timur Tengah, yang mencakup sebagian wilayah Turki modern.
"Sindrom Pembaca" dan Jejak Lentil dalam Literatur
Tak heran jika sastrawan Turki, Orhan Pamuk,
dalam novelnya My Name Is Red—yang bercerita tentang pengungkapan
misteri pembunuhan miniaturis Utsmaniyah pada abad ke-16—menyelipkan detail
kuliner ini. Sebagai pelengkap latar belakang cerita, ia menampilkan beberapa
adegan tokohnya menyajikan sup lentil, atau dalam bahasa setempat dikenal
sebagai Shorbat Adas.
Ada Esther, si pedagang kain merangkap mak
comblang, yang menyajikan sup lentil hangat untuk suaminya. Begitu pula Shekure
yang menyuruh pembantunya merendam biji lentil untuk dimasak menjadi sup bagi
kedua anaknya.
Aku pun jadi penasaran, seperti apa sih rasa
sup lentil itu? Ada yang sama denganku? Kalau habis membaca sesuatu, suka
penasaran ingin mencicipi makanan yang dideskripsikan dalam buku. Kata seorang
teman, itu "sindrom" yang wajar dialami para pembaca, haha.
Dari Lembaran Buku ke Meja Makan Realita
Karena itulah, Lentil Soup langsung mencuri perhatianku saat kami memilih menu sarapan di resto hotel tempat kami menginap dalam perjalanan kemarin.
Restoran itu sebenarnya baru saja dibuka,
tetapi sudah ramai dikunjungi tamu yang kebanyakan peziarah asal Indonesia.
Mungkin karena faktor perbedaan waktu sekitar empat jam ya—kalau di sana baru
jam 7 pagi, di Indonesia sudah jam 11 siang, jadi pasti sudah pada lapar dong,
wkwk!
Padahal, aku sama sekali tidak memiliki
referensi mengenai bentuk maupun rasa hidangan tradisional khas Timur Tengah
ini. Tanpa ba-bi-bu, sup itu langsung jadi pilihan sarapanku. Setelah
dituangkan ke dalam mangkuk saji, aku menambahkan gula bubuk dan kismis sebagai
kondimen—yang kebetulan disajikan tepat di sebelah wadah sup lentil tersebut.
Mengikuti insting saja!
Eksplorasi Rasa: Mirip Kacang Hijau, Tapi...
Pada suapan pertama, rasa creamy
perpaduan manis, gurih, dan lumer langsung memenuhi mulut. Rasanya mirip bubur
kacang hijau yang diblender halus, tetapi teksturnya lebih light
(ringan).
![]() |
| lentil sup |
Jika kacang hijau lokal punya aroma khas yang cukup kuat, lentil yang kunikmati ini cenderung netral dan tidak beraroma menyengat. Perbedaan lainnya terasa pada rasa dasarnya: saat kucicipi sebelum ditambah pemanis, lentil rasanya cenderung tawar dan lembut, berbeda dengan kacang hijau yang terkadang ada hint rasa pahit alami jika belum diberi pemanis.
Secara keseluruhan, sup lentil ini sangat
enak, hangat di badan, dan mengenyangkan. Pengalaman kuliner kecil ini rasanya
seperti melengkapi imajinasi lembaran novel yang pernah kubaca—membawa kisah
dari buku Orhan Pamuk langsung ke meja makan di dunia nyata.




Posting Komentar untuk "Menikmati Shorbat Adas: Saat Sup Lentil di Novel Orhan Pamuk Hadir di Meja Makan"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.