Antara Kerinduan, Ujian Keturunan, dan Pengorbanan
Waktu awal menikah, karena sesuatu dan lain hal, saya dan suami sepakat untuk menunda kehamilan. Hal ini sempat menuai protes keras dari beberapa keluarga terdekat, karena mereka takut pengaruh obat hormonal penunda kehamilan itu akan menyebabkan kami tidak mempunyai keturunan.
“Minimal punya anak dulu satu, setelah itu baru KB, nanti kamu nyesel,” itu kata-kata yang selalu diulang-ulang.
Saya tentunya sangat mengerti dan paham ketakutan serta kekhawatiran mereka, karena kehadiran buah hati adalah sesuatu yang sangat dirindukan oleh pasangan menikah. Anak bukan hanya sebagai penerus keturunan, tetapi bunga sekaligus pengikat sebuah perkawinan sehingga menjadi kuat, utuh, dan bahagia.
Banyak pasangan yang ditakdirkan Allah untuk memperoleh keturunan harus melalui perjuangan panjang, berat, dan mahal. Saya pernah membaca dan mengulas kisah perjuangan tersebut dalam tulisan resensi buku Iam Sarahza karya Hanum Rais, yang mengisahkan perjuangan putri Bapak Amien Rais dalam memperoleh keturunan.
Dari kisah tersebut, sedikit banyak saya menjadi lebih mudah untuk merenungkan dan membayangkan perasaan Nabi Ibrahim yang mendapat perintah Allah untuk mengorbankan Ismail. Putra kesayangan yang sangat didamba kehadirannya, bahkan nyaris pupus harapan karena beliau sudah lanjut usia.
Momen tersebut diabadikan Allah menjadi sebuah ritual ibadah tahunan yang dilaksanakan oleh umat Islam pada perayaan Iduladha, yaitu ibadah kurban. Ibadah kurban juga menjadi rangkaian penutup ibadah haji.
Menyembelih "Ismail" dan Filosofi Di Balik Ritual Haji
Tetapi ibadah kurban bukan hanya perkara menyembelih kambing, sapi, atau unta. Di sana terdapat makna yang mendalam, yaitu untuk memurnikan tauhid. Menurut Ali Syari'ati dalam bukunya yang berjudul Makna Haji, kita dituntut untuk mengurbankan "Ismail-Ismail" yang kita miliki. Ismail wujudnya bagi setiap orang tentu berbeda-beda; bisa berupa harta, jabatan, anak, kepopuleran, ego, dan lain-lain. Selain itu, turunnya perintah kurban kepada Nabi Ibrahim merupakan teguran sekaligus larangan bagi manusia untuk tidak lagi mengorbankan darah manusia kepada Tuhan.
Sesuai dengan judulnya, buku ini tentunya bukan hanya membahas tentang ibadah kurban, melainkan keseluruhan ibadah haji. Namun jangan salah, buku ini sama sekali tidak membahas fikih ibadah haji, melainkan mengungkapkan makna-makna filosofis berbagai ibadah yang menjadi rangkaiannya:
Thawaf: bermakna memurnikan tauhid dan menyatukan diri dengan pusaran alam semesta.
Sa'i: menggambarkan pencarian dan perjuangan pantang menyerah Siti Hajar.
Wukuf di Arafah: menunjukkan simbolis turunnya Nabi Adam dari surga menuju bumi, meninggalkan Ka'bah menuju Arafah untuk memperoleh kesadaran dan pengetahuan.
Muzdalifah & Mina: menunjukkan falsafah penciptaan manusia, evolusi pemikiran dari sains murni ke sains cinta, serta naiknya roh dari lumpur menuju Tuhan.
Haji Sebagai Simbol Pengetahuan dan Pembebasan Diri
Sejak awal perjalanan melayari huruf demi huruf buku setebal 260 halaman ini, saya sudah merasakan kekuatan batin sang penulis dalam menuangkan buah pikirannya yang begitu kaya makna. Seandainya semua orang yang pernah berhaji memiliki pemaknaan dan pemahaman seperti beliau, sungguh luar biasa dampaknya—bukan hanya pada individunya saja, tetapi bagi umat secara keseluruhan.
Menurut penulis asal Iran ini, ibadah haji itu bagaikan alam; potret sejati Islam yang digambarkan bukan hanya dengan kata-kata, melainkan diwujudkan dengan amaliah (aksi nyata). Lebih dari itu, ibadah haji juga merupakan simbol dari pengetahuan yang tidak berujung. Semakin dalam kita menyelami ibadah haji, kita hanya akan sampai pada sejauh apa yang mampu kita pahami.
Lantas, siapa dong yang bisa benar-benar memahaminya?
Mau tidak mau pertanyaan itu muncul begitu saja dalam pikiran ketika membaca barisan kalimat tersebut. Buat saya yang ilmunya masih cetek, jawabannya beneran bikin melongo dan harus dicerna pelan-pelan dengan hati serta pikiran terbuka:
“Hanya satu orang yang bisa mengklaim bahwa dirinya memahami semuanya, dialah orang yang tidak tahu apa-apa.”
Tuh kan, dalem banget! Gimana enggak merinding dan pengin menangis coba?
Menurut Ali Syariati, manusia sebagai sebuah ‘fenomena’ harus menemukan takdirnya dan memilih takdir itu, sebagaimana alam dan sejarah menemukan takdirnya. Caranya adalah dengan berupaya membebaskan diri dari empat penjara yang mengurungnya: alam, sejarah, masyarakat, dan diri sendiri.
Kesan Membaca dan Rekomendasi
Ah, pokoknya buku ini recommended banget untuk dibaca, bukan hanya bagi orang yang mau pergi haji saja, tetapi untuk semua orang yang ingin hidup lebih bermakna dan merasa semakin dekat dengan Allah.
Bagaimana cara membebaskan diri dari empat penjara itu? Yuk, baca saja bukunya! Terjemahannya sangat bagus, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang bikin pusing. Ukurannya tidak terlalu tebal sehingga travel-friendly. Tapi ingat, bacanya jangan ngebut-ngebut biar paham. Saya sendiri beberapa kali harus "maju mundur cantik" untuk memahami suatu bahasan. Namun itu sangat subjektif, ya, tergantung masing-masing pembaca.
Informasi dan Data Buku
Judul Buku: Makna Haji
Penulis: Dr. Ali Syariati
Penerbit: Zahra
Tahun Terbit: 2008 (Cetakan 11)
Jumlah Halaman: 260 halaman

Posting Komentar untuk "Ulasan Buku Makna Haji (Ali Syariati): Menyelami Simbolisme dan Pembebasan Diri"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.