September Ceria…..
September Ceria…..
Teman-teman generasi jadul kayak saya, tentu
tidak asing dengan lagu September Ceria yang dinyanyikan oleh penyanyi
cantik yang kini akrab disapa Mama Ina ini. Tapi bulan September di Indonesia
tidak hanya mengingatkan pada lagu itu saja yang menggambarkan keindahan dan
kebahagiaan.
Sebaliknya, September lekat dengan peristiwa
politik yang membuat bulu kuduk merinding. Bagi kami, anak-anak yang setiap
tahun disuguhi film Gestapu yang ditayangkan di TVRI, kayaknya untuk menyebut
nama peristiwanya saja tidak berani.
Cerita kelam tentang pemberontakan G30S/PKI
yang menewaskan tujuh jenderal di Lubang Buaya dengan cara yang tidak manusiawi
itu pun lekat dalam ingatan. Tetapi seiring berjalannya waktu dan perubahan
politik di Indonesia, pembahasan tentang hal itu bukan lagi tabu.
Terlihat dengan banyaknya buku yang pada zaman
Orde Baru masuk daftar blacklist—seperti Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer
yang dulu terlarang hanya karena asosiasi politik pengarangnya—sekarang bebas
dinikmati sambil leyeh-leyeh, bahkan sukses dialihwahanakan oleh sutradara
kenamaan Hanung Bramantyo.
Ngomong-ngomong tentang novel, saya tuh baru
tahu ternyata keluarga-keluarga yang dituduh terafiliasi dengan PKI itu segitu
tertekannya. Mereka harus terus merunduk karena aparat dengan mudah kapan pun
akan menciduk dan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Waktu membaca novel Pulang
dan Namaku Alam karya Leila S. Chudori, walaupun fiksi, kedua novel
tersebut ceritanya terasa sangat nyata sehingga setelah selesai dibaca
meninggalkan kesan mendalam dan memantik sederet tanya dalam hati.
Mencari Jawaban di Buku "1965: Indonesia and The World"
Oleh karena itu, saat menemukan buku 1965:
Indonesia and The World dengan editor Bernd Schaefer dan Baskara T. Wardaya
nangkring cantik di rak sebuah toko buku, saya langsung tertarik ingin membacanya.
Apalagi pada blurb-nya disebutkan bahwa
saat peristiwa itu terjadi, negara-negara asing bukanlah pengamat yang netral.
Dalam rangka mengamankan kepentingannya, mereka berlomba-lomba memberikan
dukungan kepada kelompok-kelompok Indonesia yang tengah bertikai dan saling menyalahkan
atas terjadinya tragedi tersebut. Bikin penasaran, kan?
Data Buku:
·
Judul: 1965: Indonesia and The
World (Indonesia dan Dunia)
·
Editor: Bernd Schaefer &
Baskara T. Wardaya
· Tema Utama: Sejarah, Geopolitik Perang Dingin, & Peristiwa 1965
· Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
· Tahun Terbit : 2025 ; Cetakan kedua
Ternyata, teman-teman, buku ini adalah kumpulan artikel yang ditulis oleh sebelas orang penulis dari berbagai latar belakang yang disajikan dalam format bilingual. Sebelas artikel berbahasa Inggris menempati bagian depan dari halaman 1 sampai 203, lengkap dengan prakata, daftar isi, catatan akhir, timeline sejarah, daftar penulis, dan indeks.
Kemudian terdapat empat halaman yang memuat foto-foto kunjungan
kepala negara sahabat ke Indonesia. Setelah itu, dilanjutkan dengan sebelas
artikel versi bahasa Indonesia (yang merupakan terjemahan dari versi bahasa
Inggrisnya).
Aksi 24 Jam yang Berdampak Puluhan Tahun
Artikel yang paling menarik perhatian saya
adalah "Merencanakan Pembunuhan Massal, Melemparkan Tuduhan Palsu pada
Komunis" yang ditulis oleh John Roosa. Dosen dari University of
British Columbia di Vancouver, Kanada ini dalam tulisannya menyatakan bahwa
gerakan ini sebenarnya adalah aksi konspirasi skala kecil yang menewaskan 12
orang.
Gerakan yang meninggalkan luka dan trauma
mendalam bagi rakyat Indonesia ini di Jakarta berakhir dalam waktu 24 jam, dan
di Jawa Tengah hanya berlangsung selama tiga hari. Setelah padamnya gerakan
ini, tidak ada indikasi aksi lebih lanjut.
Para pemimpinnya tercerai-berai bersembunyi di
tempat-tempat terpisah dan hanya memikirkan keselamatan masing-masing. Tidak
terjadi huru-hara, tidak ada tembak-menembak di jalanan, dan tidak ada upaya
yang membahayakan keselamatan presiden. Bahkan dalam tubuh PKI sendiri, gerakan
ini hanya diketahui oleh segelintir pemimpin Politbiro yang menjadi anggota tim
khusus Aidit.
Tapi, kenapa sampai terjadi pembunuhan massal
yang menelan korban ratusan ribu orang? Dan kenapa bisa sampai terjadi kudeta
kekuasaan?
Mengapa Buku Ini Layak Dibaca?
Hayooo, penasaran, kan? Dibaca
saja yuk bukunya! Walaupun ditulis dengan gaya yang berbeda-beda, gaya
bahasanya mudah dipahami, kok. Terus, buat yang masih kesusahan membaca artikel
bahasa Inggris (kayak saya), tenang saja! Artikel versi Indonesianya bagus dan
terjemahannya mengalir tanpa kata-kata yang aneh.
Enggak rugi pokoknya. Bagi saya, membaca buku
ini seperti melihat rumah sendiri dari luar—bisa melihat peristiwa itu dari
berbagai sudut pandang sehingga diperoleh gambaran yang jauh lebih utuh.



Posting Komentar untuk "September Ceria, September Kelam: Menatap Peristiwa 1965 dari Sudut Pandang Dunia"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.