Beberapa bulan lalu, saat tensi politik di Timur Tengah semakin meninggi hingga mengakibatkan pecahnya perang antara Iran dan Amerika Serikat, banyak pengamat menganalisis bahwa konflik tersebut dapat memicu Perang Dunia Ketiga. Jika hal itu benar-benar terjadi, tentu akan menjadi tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan. Persenjataan yang dimiliki oleh masing-masing negara saat ini jauh lebih canggih dan mempunyai daya rusak yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan perang dunia sebelumnya.
Ancaman Perang Dunia Ketiga yang Terasa Sangat Nyata
Kengerian itu terasa begitu nyata dalam imajinasiku saat membaca novel Ghost Fleet: A Novel of the Next World War karya P.W. Singer dan August Cole. Gimana enggak ngeri, walau hanya dinarasikan dalam beberapa kalimat, disebutkan bahwa pemerintahan Indonesia saat itu sudah lenyap. Sebagai WNI yang cinta tanah air, rasanya gimanaaaa gitu... Ngilu aja bacanya. (Amit-amit deh, jangan sampai kejadian!).
Intrik Politik Direktorat vs Amerika Serikat & Strategi Ghost Fleet
Novel ini berkisah tentang meletusnya perang dunia baru antara dua kubu. Di satu sisi ada Direktorat—sebuah pemerintahan gabungan oligarki dan militer Tiongkok pasca-jatuhnya rezim Partai Komunis Tiongkok yang bersekutu dengan Rusia—melawan Amerika Serikat. Negara adidaya tersebut harus berperang dalam keadaan "buta" karena pihak Direktorat berhasil meretas satelit serta jaringan siber miliknya. Akibatnya, beberapa pangkalan militer AS di Pasifik sukses diobrak-abrik lawan.
Tak rela dipecundangi begitu saja, kubu Negeri Paman Sam tidak kehilangan akal. Mereka menghidupkan kembali kapal perusak siluman USS Zumwalt dan merekrut kapal-kapal tua yang sudah lama menganggur/dipensiunkan di pelabuhan untuk membentuk Ghost Fleet (Armada Hantu). Uniknya, teknologi jadul dan sistem analog pada kapal-kapal tua ini justru membuat mereka kebal dari retasan siber lawan serta tidak terdeteksi oleh radar canggih.
Sisi Humanis: Drama Keluarga dan Perlawanan Gerilya Carrie Shin
Di balik ketegangan perang siber, aksi dar-der-dor, dan kebangkitan armada hantu ini, terselip drama keluarga yang mengharukan. Jamie diangkat menjadi kapten kapal USS Zumwalt dan harus bertugas secara profesional di kapal yang sama bersama sang ayah, Mike. Luka di masa lalu membuat keduanya canggung, padahal Mike sudah berusaha mendekati keluarga kecil Jamie dengan membantu menyelesaikan permasalahan di rumah—seperti membetulkan keran kamar mandi yang bocor hingga bermain bersama cucunya sebelum tugas perang ini dimulai.
Namun bagaimanapun juga, tak ada yang bisa memisahkan hubungan darah antara anak dan orang tua. Saat kapal USS Zumwalt dihantam rudal, orang pertama yang diingat Jamie saat dia siuman adalah ayahnya (jujur, adegan ini nyess banget).
Cerita bertambah seru saat muncul tokoh perempuan bernama Carrie Shin, yang membawa misi balas dendam pribadi karena tunangannya yang seorang pilot Marinir harus meregang nyawa akibat serangan musuh. Ia menghabisi serdadu dan perwira Direktorat secara senyap dengan menggunakan senjata-senjata sederhana.
Ia bergentayangan bagai hantu (hingga dijuluki Black Widow), menebar pesona sekaligus teror menakutkan ke dalam pasukan Direktorat. Kadang-kadang ia berpenampilan sangat anggun dengan pakaian pesta, kadang-kadang berganti rupa menjadi pelatih selancar yang seksi atau pegawai hotel yang lugu.
Komandan pasukan Direktorat merasa kebakaran jenggot saat beberapa perwira militer mereka ditemukan tidak bernyawa secara misterius di Hawaii. Carrie pun menjadi target utama yang harus ditangkap.
Jenderal Yu memerintahkan tentara sekutunya dari Rusia untuk memimpin penangkapan ini. Di sinilah terjadi perbedaan pendekatan antara keduanya. Jenderal Yu ingin menghabisi Carrie secepatnya, walaupun harus mengebom gereja yang diduga menjadi tempat persembunyiannya—meski berisiko menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak dan memicu kecaman masyarakat. Sedangkan si tentara Rusia ingin perempuan itu ditangkap hidup-hidup untuk ditelusuri jaringannya. Dan tahukah teman-teman? Ternyata Carrie bisa selamat, lho! Kok bisa? Penasaran, kan?
Kesimpulan: Novel Fiksi Spekulatif dengan Riset Militer yang Mendalam
Duh, pokoknya seru banget dan bikin deg-degan! Membaca buku ini dengan alurnya yang cepat, latar tempat yang berpindah-pindah, serta karakter yang banyak terasa seperti menonton film di dalam kepala. Berbagai adegan perang dan alutsista yang digunakan digambarkan dengan sangat baik. Tidak heran sih, karena kedua penulisnya, P.W. Singer dan August Cole, memang ahli strategi dan pakar militer mumpuni. Selain itu, walaupun novel ini fiksi, data-datanya merupakan hasil riset mendalam.
Saya menyesal baru membaca buku ini sekarang hanya karena sempat mendengar rumor kalau terjemahannya kurang bagus. Padahal, selama melayari 509 halaman buku bersampul dark blue ini, saya tidak menemukan kalimat yang aneh atau istilah teknis yang bikin pusing. Semuanya mengalir dan mudah dipahami.
Buat teman-teman pecinta cerita perang siber, alutsista, dan geopolitik, buku ini wajib banget masuk daftar bacaan kalian!
Identitas Buku:
Judul Buku: Ghost Fleet: A Novel of the Next World War (Armada Hantu)
Penulis: P.W. Singer & August Cole
Penerbit Terjemahan: PT. Mizan Pustaka
Jumlah Halaman: 542 Halaman
Tahun Terbit: 2018


Posting Komentar untuk "Review Novel Ghost Fleet: Mengulas Potret Perang Siber dan Geopolitik Masa Depan"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.