Teman-teman pernah ada yang penasaran atau pengin tahu alasannya, kenapa kalau shalat kita harus menghadap Ka'bah? Atau pernah bertanya, kenapa shalat berjemaah mempunyai pahala 27 kali lipat lebih banyak dibandingkan shalat sendirian? Atau ada yang lebih dahsyat lagi, dalam sebuah hadis Rasulullah menyebutkan bahwa pahala shalat di Masjidilharam seratus ribu kali lipat dibandingkan shalat di tempat lain?
Kalau ada, toss! Berarti kita samaan.
Apakah hal-hal tersebut bisa dijelaskan secara logis berdasarkan ilmu pengetahuan modern? Jawabannya: bisa banget.
Dalam bukunya yang berjudul Pusaran Energi Ka'bah, Agus Mustofa memberikan penjelasannya secara gamblang, runut, dan sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami. Beliau memulai diskusinya dari pertanyaan seorang mualaf pada awal tahun 2000 silam, saat alumnus jurusan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada ini hendak berangkat ke Tanah Suci bersama istrinya.
Mualaf tersebut bertanya, "Pak, kenapa sih kita mesti pergi ke Tanah Suci...?"
Jawaban paling populer tentu saja: "Saya berangkat haji untuk memenuhi panggilan Allah datang ke Baitullah." Kalimat tersebut esensinya berasal dari kalimat bacaan jemaah haji sepanjang ibadahnya: “Labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik...” (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu).
Namun, Islam bukanlah agama dogma yang tidak memedulikan kaidah-kaidah empiris. Sebaliknya, Islam senantiasa memerintahkan penganutnya untuk memadukan kehidupan dunia yang identik dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan akhirat yang berpedoman kepada syariat, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 201:
"Dan di antara mereka ada yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."
Jika kita menggabungkan pendekatan dari kedua sisi tersebut, kita akan memperoleh cara yang lebih baik dalam memahami segala sesuatu dengan penuh kesadaran—yang pada akhirnya makin memperkokoh keimanan.
Agus Mustofa membongkar rahasia pusaran energi Ka'bah ini dengan menggabungkan syariat dan pendekatan ilmu fisika. Menurut beliau, ada empat faktor utama mengapa Ka'bah memiliki energi yang begitu powerful:
Faktor Nabi Ibrahim a.s.
Sosok Nabi Ibrahim adalah rasul kesayangan Allah Swt. yang memiliki pancaran energi positif luar biasa besar. Energi tersebut kemudian menular ke seluruh karya beliau. Oleh karena itu, sebagai karya Nabi Ibrahim, Ka'bah menyimpan energi kemuliaan sang bapak para nabi ini.
Faktor Hajar Aswad
Merupakan sisa batu meteorit dengan kadar logam sangat tinggi, Hajar Aswad secara mandiri sebenarnya tidak mempunyai kuasa untuk membantu kekuatan doa. Namun, karena batu ini diletakkan di atas fondasi Ka'bah, daya hantaran elektromagnetiknya yang tinggi berfungsi sebagai "pintu" keluar-masuknya energi Ka'bah untuk menyinari orang-orang di sekitarnya.
Faktor Orang yang Bertawaf
Orang-orang yang bertawaf mengelilingi Ka'bah dengan arah berlawanan jarum jam memunculkan gelombang elektromagnetik yang sangat kuat. Hal ini sejalan dengan Kaidah Tangan Kanan dalam ilmu fisika: "Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh arus listrik/muatan yang bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka pada konduktor tersebut akan muncul medan elektromagnetik yang mengarah ke atas."
Ka'bah sebagai Kiblat
Umat Islam diperintahkan shalat lima kali sehari menghadap kiblat—bukan menyembahnya, ya! Karena waktu shalat mengikuti pergerakan matahari, artinya di setiap detik perputaran bumi selalu ada orang yang sedang shalat di berbagai belahan dunia. Bisa dibayangkan, Ka'bah benar-benar menjadi pusat fokus gerakan sepanjang waktu. Akibatnya, tercipta ketegangan energial (interaksi medan elektromagnetik) yang konstan antara orang yang shalat dan Ka'bah.
Luar biasa, kan? Segala perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an, jika dipahami dengan memadukan pendekatan ilmu pengetahuan dan syariat, lebih mengena di hati dan diterima dengan penuh kesadaran rasional. Apalagi Agus Mustofa menyajikannya dengan diksi sederhana sehingga mudah dipahami oleh orang awam.
Al-Qur'an memang senantiasa memantik manusia untuk mengeksplorasi dan meneliti lebih lanjut dengan memaksimalkan akal pikiran. Contoh lainnya adalah misteri mengapa shalat berjemaah di masjid lebih utama dibanding shalat sendiri.
Jika dianalogikan dengan ilmu listrik, shalat berjemaah dengan shaf yang rapat itu ibarat rangkaian paralel. Ketika beberapa sumber energi digabungkan secara paralel, arus dan dayanya akan melipat ganda secara signifikan—inilah alasan logis mengapa energi dan pahala shalat berjemaah dilipatgandakan hingga 27 kali lipat dibanding shalat sendirian.
Begitu pula dengan masjid sebagai tempat ibadah—tempat tersebut senantiasa menyerap energi positif dari orang-orang yang shalat di dalamnya sepanjang waktu, lalu memancarkan kembali energi besar itu kepada siapa saja di dalamnya. Dari kombinasi seluruh faktor ini, kita jadi makin paham kan kenapa shalat di Masjidilharam pahalanya bisa berlipat 100.000 kali dibanding di tempat lain?
Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca! Selain isinya yang keren tiada obat, tampilan fisiknya juga sangat nyaman. Ukurannya pas (sebesar buku tulis), tidak terlalu tebal sehingga travel-friendly, ukuran hurufnya pas di mata, dan dicetak di atas kertas HVS putih bersih yang dijamin tidak cepat menguning dimakan usia.
Oh ya teman-teman, mari sejenak kita kirimkan Al-Fatihah untuk Pak Agus Mustofa. Belum lama ini beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Semoga seluruh karya dan ilmu yang beliau bagikan menjadi amal jariyah yang terus menerangi alam kuburnya. Aamiin.
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Pusaran Energi Ka'bah
Penulis : Agus Mustofa
Penerbit : Padma Press
Tahun Terbit : 2008 M / 1429 H
Jumlah Hal : 271 Halaman


Posting Komentar untuk "Menyingkap Misteri di Balik Pusaran Energi Ka'bah"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.