Review Buku Bersatu Dengan Allah Karya Agus Mustofa: Saat Buku Menemukan Pembacanya

 

Review Buku Bersatu Dengan Allah Karya Agus Mustofa: Saat Buku Menemukan Pembacanya

Teman-teman pernah mendengar ungkapan “Sebuah buku akan menemukan pembacanya”? Percaya tidak percaya, aku sering banget relate dengan ungkapan itu ketika tiba-tiba muncul keinginan untuk membaca sebuah buku yang sekian lama cuma jadi koleksi dan dianggurin begitu saja.

Hal ini terjadi pada buku karya Agus Mustofa yang berjudul Bersatu Dengan Allah. Buku ini sudah lama aku miliki, tapi belum pernah ada keinginan untuk membacanya. Jadi ya dibiarkan begitu saja berdebu di pojokan (duh, maafkan).

Pertanyaan yang Menggedor Logika dan Kesadaran

Namun entah dapat pencerahan dari mana, pada suatu pagi judul buku ini tiba-tiba tertangkap mata. Seketika muncul sejumlah pertanyaan di dalam hati:

  • Bagaimana caranya bersatu dengan Allah?
  • Apakah selama ini kita berpisah dengan Allah?
  • Kalau berpisah, siapa yang menghidupkan makhluk-Nya?
  • Kalau begitu, Allah itu di mana?

Banyak pertanyaan lain yang turut menggedor kesadaran dan logikaku. Rasa penasaran itulah yang memberi energi untuk menamatkan buku setebal dua ratusan halaman ini dalam waktu kurang dari satu pekan.

Gaya Bahasa Rumit yang Dikemas Sederhana dan Logis

Yang aku suka dari tulisan Agus Mustofa, walaupun temanya sangat serius dan terkesan sufi banget, beliau mampu menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana. Kalimat-kalimatnya mudah dipahami dan disertai dalil-dalil ilmiah, sehingga tidak bertentangan dengan logika.

Selain itu, yang membuat aku makin jatuh cinta dengan tulisan arek Malang berputra empat jebolan Teknik Nuklir UGM ini adalah gayanya yang jauh dari kesan memaksakan opini atau menggurui. Beliau justru seperti sedang mengajak pembaca berdiskusi secara hangat.

Mempertanyakan Kembali Fondasi Keyakinan

Dalam buku Bersatu dengan Allah, beliau membawa pembaca mulai dari pertanyaan dasar: Benarkah Tuhan Ada? Sebuah pertanyaan yang sukses membuatku merinding dan hati bergetar, karena jujur saja, hal tersebut tidak pernah sekalipun terlintas untuk aku pertanyakan sebelumnya.

Diskusi berlanjut ke pertanyaan: Perlukah kita bertuhan? Bertuhan kepada siapa? Kenapa mesti Allah? Rasanya ingin menangis dan beristigfar berkali-kali menyadari betapa aku selama ini beragama tanpa tahu filosofinya, alias cuma ikut-ikutan saja.

Pembahasan dalam buku ini diakhiri pada Bab IX berjudul Yang Ada Hanya Dia, yang mengungkapkan kedudukan Allah dengan makhluk-Nya diumpamakan seperti pelita dan cahaya, sebagaimana tertulis dalam QS. An-Nur ayat 35.

Makna Hakiki "Mendekatkan Diri" kepada Allah

Bicara soal kedekatan antara pelita dan cahayanya, aku jadi teringat satu hal. Teman-teman pernah enggak didoakan seperti ini: "Semoga semakin dekat dengan Allah"? Dulu, aku mengartikan doa itu sebagai harapan agar kita semakin rajin beribadah seperti shalat, puasa, bersedekah, zakat, hingga haji dan umrah. Tapi tahukah teman-teman, ternyata ada cara mendasar untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Sebelum aku spill caranya, disclaimer dulu ya: maksud mendekatkan diri kepada Allah di sini adalah secara kesadaran, bukan secara fisik. Sebab secara fisik, kita sama sekali tidak bisa dijauhkan sedikit pun dari Allah.

Caranya adalah dengan menerapkan sifat-sifat universal Allah dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk refleksi ibadah kita. Pemahamannya menjadi sangat sederhana:

  • Orang yang menjalankan perilaku egois sebenarnya sedang bergerak menjauh dari kualitas ketuhanan.
  • Sebaliknya, orang yang menerapkan perilaku universal sedang mendekatkan diri kepada kualitas ketuhanan.
  • Ketika seseorang sudah menjadi sangat universal, maka ia telah menyatu dengan kualitas ketuhanan itu sendiri.

Tiga Kualitas Kepribadian Manusia

Dalam Al-Qur'an, diajarkan tiga kualitas kepribadian:

  1. Egois – Individualis
  2. Sosialis
  3. Spiritualis

Ketiga sifat tersebut bertingkat-tingkat menjadi semakin universal. Seseorang yang egois atau mementingkan diri sendiri diperintahkan oleh Allah untuk bergeser menuju sifat yang lebih sosial dengan banyak berbuat kebajikan kepada sesama (hablum minannas).

Jika hablum minannas sudah dapat dijalankan dengan penuh keikhlasan, maka kita beranjak menuju tingkatan tertinggi, yaitu spiritualis—tingkatan yang mengamalkan sifat-sifat ketuhanan tanpa pamrih, semata-mata lillahi ta'ala.

Kesimpulan: Kenapa Buku Ini Wajib Dibaca?

Buat teman-teman yang lagi nyari bacaan reflektif tapi nggak bikin pusing, atau sering memendam pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang spiritualitas, buku ini wajib banget masuk daftar bacaan kalian. Sederhana, logis, tapi efeknya bikin hati adem sekaligus 'menampar' kesadaran kita.

Identitas Buku

Judul Buku                  : Bersatu Dengan Allah

Penulis                         :  Agus Mustofa

Penerbit                       :  PADMA Press

Tahun Terbit                :  2005, Cetakan IV

Posting Komentar untuk "Review Buku Bersatu Dengan Allah Karya Agus Mustofa: Saat Buku Menemukan Pembacanya"