Healing Sejenak ke Kafe Sumpah Serempah Tasikmalaya: Saat Jamu Naik Kelas Jadi Tempat Nongkrong Estetik

 

Healing Sejenak ke Kafe Sumpah Serempah Tasikmalaya: Saat Jamu Naik Kelas Jadi Tempat Nongkrong Estetik

Masih ingat quote yang mengatakan bahwa Indonesia adalah Zamrud Khatulistiwa? Ungkapan singkat itu menggambarkan betapa kayanya negeri kita. Berada tepat di garis khatulistiwa, Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang melimpah. Bukan cuma hasil tambangnya yang melimpah, tapi tanahnya juga sangat subur. Berbagai tanaman bisa tumbuh subur di sini, mulai dari pohon kayu raksasa hingga tanaman obat dan rempah-rempah berkhasiat.

Ngomong-ngomong tentang tanaman rempah, kalau kita mengingat pelajaran sejarah di sekolah dulu, rempah merupakan salah satu faktor Nusantara jatuh dalam cengkeraman penjajahan bangsa asing selama ratusan tahun.

Saat itu, rempah adalah komoditas perdagangan dunia yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Para pedagang Eropa bahkan rela berlayar berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, demi mencari daerah penghasil rempah baru, sebagaimana yang diceritakan oleh Helmy Yahya dalam novelnya yang berjudul Clavis Mundi. Kebetulan saya punya novelnya di rumah dan sudah tamat saya baca (foto bukunya bisa teman-teman lihat di bawah ini, ya. Sengaja dipajang biar kelihatan keren dikit, wkwkwk). Ada yang sudah baca juga? (Komen di bawah, ya!).




Eh, tapi jangan salah sangka dulu. Rempah bukan hanya berdampak politis yang membawa penderitaan begitu panjang buat bangsa kita, lho. Rempah ini bisa dikatakan sebagai berkah tersembunyi karena memiliki kegunaan dan khasiat yang luar biasa untuk kesehatan.

Oleh karena itu, nenek moyang kita sangat pintar memanfaatkan rempah-rempah ini sebagai obat yang diracik dalam bentuk jamu. Makanya, kita sekarang mengenal beraneka macam jamu seperti jamu pegal linu, jamu kuat, beras kencur, kunyit asam, dan lain sebagainya.

Dari Tren JSR Hingga Menjamurnya Kafe Herbal Modern

Seiring berjalannya waktu, budaya minum jamu ini perlahan mulai tergeser dengan hadirnya berbagai obat modern yang dinilai lebih praktis, serta dipercaya lebih cepat dan berkhasiat mengusir penyakit. Namun, sekitar tahun 2018–2019, muncul sosok dr. Zaidul Akbar yang kembali memviralkan budaya minum rempah dalam bentuk infusa atau seduhan rempah sederhana dengan mengusung konsep “Jurus Sehat Rasulullah” (JSR).Sebagai emak-emak yang penganut hidup sehat garis lucu, tentu saja buku panduan JSR beliau juga nangkring manis di rak buku pribadi saya (tuh, ada buktinya di foto bawah! 




Puncaknya pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19 melanda dunia, minum rempah bukan lagi sekadar tren, melainkan telah berubah menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

Pascapandemi, tepatnya sejak UNESCO menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2023, budaya minum rempah ini semakin berkibar bahkan naik kelas! Hal ini ditandai dengan menjamurnya berbagai kafe herbal modern. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah Sumpah Serempah yang berlokasi di Jalan Yudanegara, Cihideung, Tasikmalaya.

Sumpah Serempah: Mengubah "Sumpah Serapah" Menjadi Berkah

Jujur, kafe yang setiap hari mulai buka dari jam 10 pagi ini lumayan sering disebut kalau saya dan teman-teman lagi mencari tempat makan. Tapi ada saja alasan sehingga terpaksa memilih tempat lain. Terutama karena kafe ini selalu dipenuhi pengunjung, jadi malas mengantre. Itu sih intinya, hehe.

Sekitar dua minggu lalu, akhirnya kami meetup di kafe yang namanya super unik dan kreatif ini. Diambil dari pelesetan kata "sumpah serapah" yang berkonotasi negatif, bertransformasi menjadi nama penuh makna: Sumpah Serempah. Mengusung konsep bahwa kafe ini "bersumpah" akan menyajikan kuliner dan racikan minuman herbal yang kaya akan campuran rempah khas Nusantara yang berkhasiat dengan rasa otentik.




Benar saja, waktu kami datang sekitar pukul 11 siang, suasananya sudah ramai. Untungnya kami masih kebagian tempat yang tidak terlalu jauh dari meja kasir. And then, langsung pesan dong, lapar soalnya!

Setelah mengamati daftar menu, aku memesan Seremoni Matcha dingin, Mie Godog, dengan camilan Pisang Goreng Gula Aren. Sedangkan ketiga temanku kompak memesan Seremoni Original, Nasi Goreng Kunyit, Mie Goreng, Nasi Goreng Cikur, serta camilan Bala-Bala dan Peuyeum Goreng.



Vibes Jadul Rumah Eyang yang Bikin Nostalgia

Mungkin karena banyak pengunjung, lumayan agak lama kami menunggu makanan disajikan. Tapi it's okay sih, kalau sambil ngobrol ngalor-ngidul membahas segala rupa pergosipan mah enggak terasa ya, teman-teman?

Sambil menunggu itu juga, saya jadi punya waktu melihat-lihat suasana sekitar. Tahu enggak teman-teman, kafe ini bukan hanya makanannya saja yang jadul, interior maupun meja dan kursinya juga modelnya sudah jadul pisan! Seperti kursi nilon (kenur), kursi besi, dan ada juga kursi jok jadul yang biasa kita dapati di ruang tamu eyang-eyang dulu.

Oh ya, kalau teman-teman ke sini mendekati waktu salat, jangan khawatir! Di sini terdapat musala yang super bersih dan areanya dipisah antara laki-laki dan perempuan. Begitu juga dengan tempat wudu maupun klosetnya. Jempolan banget deh kebersihannya!

Waktunya Makan: Sensasi Mie Godog Rempah dan Segarnya Es Seremoni

Setelah puas eksplorasi, akhirnya makanan yang ditunggu datang juga. Yeayy! Piring pesanan aku yang pertama datang adalah Mie Godog dengan cabai dipisah. Pesanan teman-teman masih harus menunggu lagi, jadi langsung saja disantap guys, daripada keburu lonyot (lembek) ya kan?

Pada suapan yang pertama, sensasi rasa gurih dari kuah kental yang kaya rempah berpadu dengan hangatnya mie yang lembut langsung menyeruak memanjakan indra perasaku. Endes banget!

Porsi melimpah Mie Godog khas Sumpah Serempah dengan kuah kental bertabur bumbu rempah.


Apalagi Seremoni Matcha-nya. Meskipun datang belakangan, saya sama sekali tidak kecewa dengan kesegaran aroma maupun rasanya. Perpaduan antara sereh, kunyit, matcha, lemon, dan es terasa semakin harmoni berkat sentuhan unik dari kuncup bunga melati asli. Segar dan menenangkan banget di tenggorokan!


Signature drink Seremoni Matcha, perpaduan unik herbal modern dengan wangi kuncup melati asli yang menenangkan.

Setelah saling mencicipi makanan masing-masing, kami berempat sepakat kalau makanan di sini lezat dan harganya murceu alias murah banget. Enggak percaya? Menu yang kupesan (Mie Godog porsi melimpah, Seremoni Matcha, dan Pisang Goreng Gula Aren isi 5 biji), totalnya cuma Rp52.000 aja! Ramah banget di kantong  kan?

Pilihan Menu Lain yang Wajib Dicoba

Oh iya teman-teman, selain varian Seremoni, minuman berrempah yang menjadi andalan di Sumpah Serempah ada juga yang lainnya seperti Wedang Kencur, Teh Rempah, Es Rempah, dan Wedang Susu. Kalau ada anggota keluarga yang tidak terlalu suka minuman rempah, teman-teman bisa pesan menu kopi atau minuman non-rempah lainnya kok. Pilihan makanan beratnya juga sangat beragam.

Jadi, kalau kebetulan lagi mampir ke Tasikmalaya, coba deh luangkan waktu mampir ke sini. Selain makanannya unik dan lezat, tempat ini rasanya sukses menjadi jembatan indah antara masa lalu dan masa sekarang. Yuk, agendakan healing sehat di sini!






Posting Komentar untuk "Healing Sejenak ke Kafe Sumpah Serempah Tasikmalaya: Saat Jamu Naik Kelas Jadi Tempat Nongkrong Estetik"