Teman-teman, biasanya kalau kita main ke Situ
Gede, tujuan utamanya pasti buat menikmati lezatnya ikan bakar, naik perahu
mengelilingi danau, atau sekadar jalan-jalan santai menyusuri tepi danau.
Sambil berkeliling, mata kita akan dimanjakan oleh cantiknya pemandangan dengan
kilauan sinar matahari yang memantul di atas permukaan air beriak tenang.
Namun saat kami jalan-jalan ke Situ Gede akhir
pekan lalu, pemandangan indah kemilau air itu mendadak hilang. Kemarau panjang
ternyata telah menyusutkan hampir 90 persen debit air danau yang terkenal
dengan mitos ikan raksasa penjaga danau, Si Layung dan Si Kohkol
ini.
Fenomena Danau Kering: Dari Arena Foto Sampai Lapak Kuliner Mendadak
Dasar danau benar-benar kering! Permukaan
lumpurnya sudah mengeras, bahkan mulai ditumbuhi rumput hijau yang subur.
Fenomena alam yang langka ini tentu saja menyedot perhatian pengunjung. Banyak
yang ramai-ramai turun ke dasar danau untuk berwisata dan berswafoto. FYI,
kalau teman-teman mau hasil foto yang lebih ciamik, di lokasi banyak jasa
fotografer lokal (Aa-aa foto) yang siap membantu.
Melihat antusiasme pengunjung, para pedagang
pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih cuan. Lapak-lapak mendadak
digelar di area baru ini, mulai dari penjual makanan dan minuman ringan, kelapa
muda, hingga warung ikan bakar.
Suasana Situ Gede makin semarak dengan adanya
pertunjukan tari tradisional dari Dewan Kesenian. Puluhan anak perempuan lintas
usia tampil memukau dengan busana tradisional dan selendang aneka warna.
Gerakan mereka begitu ritmis dan lemah gemulai mengikuti irama musik pengiring.
Tak hanya itu, kami juga disuguhi pemandangan
alam yang keren banget: kawanan burung pemakan ikan berwarna putih terbang
bergerombol, lalu hinggap di sisa-sisa ceruk danau yang masih berair untuk
berburu mangsa.
Sensasi Menyeberang Jalan Kaki ke Pulau Nusa
Eh teman-teman, siapa yang belum pernah ke
Pulau Nusa? Itu lho, pulau kecil yang berada tepat di tengah Situ Gede.
Kebetulan pada musim kemarau seperti sekarang, kita bisa menyeberang ke sana cukup
dengan jalan kaki tanpa perlu sewa perahu!
Memangnya ada apa sih di Pulau Nusa?
Buat pecinta sejarah dan legenda lokal, tempat
ini wajib banget dikunjungi. Di sana terdapat situs keramat yang berkaitan erat
dengan asal-usul terbentuknya Situ Gede, sekaligus salah satu cerita rakyat
paling terkenal di Priangan Timur.
Jejak Dakwah dan Eko-Spiritual Eyang Prabu Dilaya
Di pulau ini bersemayam Eyang Prabu Dilaya,
seorang pangeran dari Kerajaan Sumedang Larang yang memiliki dahaga spiritual
tinggi untuk memperdalam ajaran Islam dan ilmu kebatinan. Beliau bahkan sempat
mengembara hingga ke Mataram untuk berguru kepada ulama kharismatik.
Sepulang mengembara, pangeran muda yang
bijaksana dan rendah hati ini tidak kembali ke kehidupan istana. Beliau lebih
memilih wilayah Sukapura (Tasikmalaya masa kini)—yang saat itu masih berupa
rawa dan hutan rimba—sebagai tempat bertafakur mendekatkan diri kepada Sang
Pencipta.
Di sela-sela ibadahnya, beliau aktif berdakwah
mengajarkan tauhid, tata cara ibadah, hingga kearifan hidup kepada warga
sekitar. Sosoknya sangat dicintai karena ajarannya menekankan prinsip eko-spiritual:
alam adalah anugerah Yang Kuasa yang wajib dijaga, sehingga warga diajarkan
mengambil hasil bumi secukupnya dan merawat sumber air.
Refleksi Ziarah: Pelajaran Pentingnya Komunikasi Keluarga
Bagi saya, mengunjungi makam Eyang Prabu
Dilaya bukan hanya untuk mendoakan almarhum atau sekadar mengingatkan kita pada
kematian (dzikrul maut). Ada pelajaran hidup yang sangat besar dari
perjalanan sang pangeran yang bermetamorfosis menjadi ulama ini, yaitu pentingnya
komunikasi dalam keluarga. Menurut kisah lisan, beliau gugur di tangan
istrinya sendiri akibat sebuah kesalahpahaman. Sedih banget, ya?
Oh iya, untuk menuju lokasi makam di Pulau
Nusa, ada dua jalur yang bisa dipilih:
- Jalur
Gerbang Utama: Meniti puluhan anak tangga yang cukup
menanjak di bawah rindangnya pepohonan.
- Jalur
Musala: Lewat jalan setapak bertembok di samping
Musala Prabu Dilaya.
Gimana, seru banget kan? Walaupun kemarau
membuat Situ Gede kehilangan airnya, keseruannya langsung tergantikan dengan
sensasi berjalan di dasar danau plus wisata ziarah gratis ke Pulau Nusa
tanpa perlu bayar sewa perahu!
Posting Komentar untuk "Cerita Seru Liburan di Situ Gede: Dari Fenomena Danau Kering Sampai Jejak Sejarah Prabu Dilaya"
Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.