Melihat Sejarah Baitul Maqdis dari Kacamata Arkeologi: Resensi Buku Emas Baitul Maqdis Vol. 2

Melihat Sejarah Baitul Maqdis dari Kacamata Arkeologi: Resensi Buku Emas Baitul Maqdis Vol. 2


Membahas Baitul Maqdis seolah tidak pernah ada habisnya, dan membaca Buku Emas Baitul Maqdis Volume 2 sukses memberikan saya perspektif baru yang sangat menarik, khususnya dari sisi penelusuran arkeologi.

Sebagai tanah suci tiga agama Ibrahimiah, tidak ada yang meragukan keistimewaan dan keberkahan yang dimiliki oleh Baitul Maqdis. Tidak heran jika perebutan wilayah ini senantiasa berlangsung hingga saat ini. Masing-masing pihak saling mengklaim siapa yang paling berhak atas tanah ini. Untuk memvalidasi pernyataan tersebut, usaha penelusuran jejak sejarah Baitul Maqdis pun tidak hanya disandarkan pada dokumen-dokumen sejarah, tetapi juga melalui berbagai penelusuran arkeologi.

Dua Jenis Penggalian di Baitul Maqdis

Dalam perjalanannya, penelusuran arkeologi di wilayah ini terbagi menjadi dua kategori besar:

  • Penggalian Nonilmiah: Dilakukan oleh sekelompok ilmuwan pada pertengahan abad ke-19 dan ke-20 M. Penggalian ini menggunakan pendekatan serta interpretasi penemuan arkeologi yang "dicocokkan" dengan Alkitab, dan kebanyakan bertujuan untuk kepentingan kolonial.

  • Penggalian Ilmiah: Berdasarkan pada stratigrafi yang dipelopori oleh Kathleen Kenyon pada tahun 1961. Penggalian ini difokuskan pada area Kolam Silwan di sebelah selatan Masjid Al-Aqsa.

Sayangnya, penggalian-penggalian tersebut belum mampu menjawab semua pertanyaan tentang sejarah dan identitas wilayah Baitul Maqdis sebelum penaklukan Islam pertama pada abad ke-7 M. Hal inilah yang membuat topik ini sangat sensitif dan menjadi isu kontroversial di kalangan ilmuwan Alkitab dan umat Islam.

Melihat Sejarah Baitul Maqdis dari Kacamata Arkeologi: Resensi Buku Emas Baitul Maqdis Vol. 2


Benturan Perspektif: Klaim Kuil vs. Sejarah Islam

Ketidaksepakatan para ahli di lapangan menciptakan dua sudut pandang yang saling bertolak belakang:

1. Sudut Pandang Ilmuwan Alkitab

Para ilmuwan Alkitab sama sekali tidak menghiraukan konsep pendirian Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis. Mereka berpandangan bahwa fondasi-fondasi yang ada saat ini merupakan bagian dari kompleks perkotaan “Kuil Yahudi” yang dibangun pada abad pertama oleh Herodes Agung. Menurut sumber sejarah mereka, kuil ini kemudian dihancurkan oleh Titus, seorang Panglima Romawi, pada tahun 70 Masehi.

2. Sudut Pandang Ilmuwan Muslim

Sebaliknya, para ilmuwan muslim menyatakan bahwa pendirian dan evolusi Baitul Maqdis—termasuk identitasnya—harus dikaitkan dengan sang pembangun masjid pertama di muka bumi, yaitu Nabi Adam. Pendapat ini didasari oleh Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1, surah Ali Imran ayat 96, serta hadis sahih berikut:

Abu Dzar al-Ghifari r.a. berkata: "Wahai Rasulullah, masjid apakah yang ditegakkan pertama kali di muka bumi?" Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Masjidil Haram (di Makkah)." Kemudian aku bertanya lagi: "Kemudian (masjid) apa?" Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Masjid Al-Aqsa (di Baitul Maqdis)." Aku bertanya lagi: "Berapa rentang waktu antara keduanya?" Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Empat puluh tahun. Dan ketika datang waktunya salat, di mana pun kamu berada, dirikanlah salat, karena di situlah balasannya."

Ketika Arkeologi "Dibelokkan" oleh Politik

Pembahasan mendalam mengenai penelusuran arkeologi ini menjadi hidangan pembuka dalam artikel pertama yang ditulis oleh Dr. Haitham Fathi Al-Ratrout (peneliti dari Universitas Nasional An-Najah Palestina) di buku ini.

Waktu pertama kali membaca abstraknya, saya langsung menemukan hal yang sangat menarik: bagaimana para ilmuwan Israel begitu keukeuh dengan pendapat mereka, sementara bukti-bukti arkeologis justru memberikan data-data ilmiah yang sangat bertolak belakang.

Padahal, di belahan dunia lain, arkeologi dan arsitektur selalu menjadi perwakilan mutlak dari eksistensi serta identitas manusia purba. Melalui keduanya; sejarah, sosiologi, kronologi, waktu, hingga etnis dapat diidentifikasi secara objektif. Namun, perlu teman-teman ketahui, aturan baku ini seolah berlaku di mana pun di seluruh dunia—kecuali di Baitul Maqdis.

Sebagian besar ilmuwan dan cendekiawan menilai bahwa arkeologi dan arsitektur Baitul Maqdis telah diidentifikasi secara keliru dan disalahartikan. Para peneliti Barat dan Israel sering kali membatasi objektivitasnya. Bukan hanya karena sumber sastra kuno mereka yang membingungkan dan saling bertentangan, tetapi juga karena tekanan keadaan sosial politik yang terjadi saat ini.

Bikin gemas, kan? Bagaimana sih bukti arkeologi yang sebenarnya?

Tenang, dalam artikel tersebut semuanya dibahas dengan sangat mendalam dan dilengkapi dengan foto-foto hasil penelitian, sehingga jauh lebih mudah untuk kita pahami.


Melihat Sejarah Baitul Maqdis dari Kacamata Arkeologi: Resensi Buku Emas Baitul Maqdis Vol. 2


Isi Buku & Kesimpulan Penulis

Oh iya teman-teman, dalam Buku Emas Baitul Maqdis Volume 2 ini total terdapat sembilan artikel hasil pengkajian mendalam dari para peneliti yang tergabung dalam ISRA (Islamicjerusalem Research Academy). Fakta-fakta yang disajikan di dalamnya membuatku merasa sangat beruntung bisa membaca buku ini, karena ada banyak sekali hal baru yang belum kuketahui sebelumnya.

Walaupun buku ini dirangkai dengan diksi-diksi yang sangat serius dan menuntut kita untuk membacanya dengan khusyuk, menurutku ini worth it banget dengan ilmu yang kita dapat. Terus, kualitas terjemahannya juga oke banget. Salut, deh!

Kesimpulannya, buat siapa saja yang ingin melihat konflik dan sejarah Baitul Maqdis dari kacamata ilmiah yang objektif—bukan sekadar asumsi atau narasi sepihak—buku ini adalah jawaban yang tepat. Sangat direkomendasikan!

Identitas Buku

  • Judul Buku: Buku Emas Baitul Maqdis (Volume 2)

  • Penulis: Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, dkk.

  • Penerbit: MuslimCOMMunity Publishing

  • Tahun Terbit: April 2020 (Cetakan 1)

  • Jumlah Halaman: 280 halaman

14 komentar untuk "Melihat Sejarah Baitul Maqdis dari Kacamata Arkeologi: Resensi Buku Emas Baitul Maqdis Vol. 2"

  1. Masyaallah. Baarakallaahu fiikum. Buku yang amat menarik dan artikel yang bermanfaat Insyaallah. Sudut pandang yang unik, karena dari sisi arkeologi. Jadi penasaran dengan bukunya. Terima kasih banyak sajian ilmunya, Kak.

    BalasHapus
  2. Ini brarti ada dua jilid buku kah mba? Vol 1 dan vol 2 gitu ya??
    Sepertinya buku ini memang perlu banget kita baca terutama yang tertarik dengan sejarah baitul maqdis sekaligus untuk mengulik kebenaran yang ad disana karena kadang beberapa kebenaran sering disembunyikan demi kepentingan politik semata...terima kasih buat rekomendasi bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada tiga jilid mba ....vol satu, dua dan tiga

      Hapus
  3. Selama ini saya lebih sering mendengar kisah Baitul Maqdis dari kajian atau buku sejarah, tetapi melalui ulasan buku seperti ini rasanya jadi lebih mudah memahami perjalanan panjangnya dari berbagai sudut pandang. Sebuah pengingat agar melihat sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa, tetapi sebagai pelajaran yang masih relevan hingga sekarang.

    BalasHapus
  4. Kisah Baitul Maqdis memang begitu populer ya. Sejarah yang tidak lekang oleh waktu
    Meskipun jaman terus berganti tapi sisi lain dari kisah Baitul Maqdis yang dibukukan seperti ini justru jadi memperkaya perjalanan manusia setiap generasi nya

    BalasHapus
  5. Sepertinya menarik ya melihat sejarah Baitul Maqdis dari segi arkeologinya. Apalagi ada dokumentasi foto juga ya di dalam bukunya, jadi bisa lebih terbayang.

    BalasHapus
  6. Muslim wajib baca ini agar insight kita tentang baitul maqdis makin luas. Apalagi bagi yang masih bertanya-tanya tentang keberadaan masjid ini

    BalasHapus
  7. Saya ingin membeli bukunya mbak..dimana ya belinya? Apakah di e commerce ada atau dijual terbatas? Saya ingin membaca bagaimana informasi tentang Baitul Maqdis dari penulis yang ada di buku ini. Jadi bisa ada perspektif dan pandangan baru

    BalasHapus
    Balasan
    1. di ecommerce ada mba. saya pun belinya online

      Hapus
  8. Ka Oemyyy..
    Bacaannya mashaAllah.. beneeerr iih, aku barruu mau bilang "Aga beraatt yaah.."

    Tapi sebagai ummat muslim, semoga Allah memberikan kita semua kesempatan untuk bisa ziarah ke Baitul Maqdis secara beneran. Karena memang sejarah Islam ada di sana dengan segala ketaatan para Nabi yang mulia.

    Buku Emas Baitul Maqdis Volume 2 wajib dibaca sambil berdoa kemudahan untuk bisa mengunjungi negara tempat orang-orang shalih dulu dikabulkan doa-doanya.

    BalasHapus
  9. gemes ya mbak jika sejarah dibelokkan karena kepentingan politik jadinyakan menyesatkan dan membingungkan. Buku yang menarik dan dikaji secara mendalam, wajib baca nih agar kita lebih kenal dengan sejarah dan kebenarannya

    BalasHapus
  10. Wah Bukunya sampai 3 jilid yaa pastinya ada banyak informasi yang tidak banyk diketahui orang-orang termasuk juga muslim seperti kita. Bagus banget nih bukunya buat yang ingin menggali lebih jauh terkait baitul Maqdis

    BalasHapus
  11. Baru tahu kalau Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa merupakan masjid pertama yang dibangun. Kupikir Masjidil Aqsa sejak zaman Nabi Sulaiman, tapi ternyata sejak Nabi Adam ya?

    BalasHapus
  12. Pembahasannya panjang, lengkap, dan komprehensif ya kak. Bayanginnya sampai bervolume-volume gitu bukunya. Penting banget dibaca biar lebih tahu sejarah, terutama perihal Baitul maqdis ini

    BalasHapus

Komentar anda merupakan sebuah kehormatan untuk penulis.